Manusiasenayan.id – Kalau ngomongin politik, jangan cuma melihat siapa yang paling sering muncul di layar atau paling ramai saat berdebat. Ada juga sosok yang perjalanan hidupnya berangkat dari dunia pesantren, aktif di berbagai organisasi, hingga akhirnya ikut mengawal kebijakan di parlemen. Salah satunya Dr. K.H. Maman Imanul Haq, M.M., anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Perjalanan Maman bukan cerita yang dibangun dalam semalam. Sebelum berkecimpung di Senayan, ia lebih dulu menghabiskan banyak waktu di dunia pendidikan agama, mengelola lembaga, dan terlibat dalam berbagai gerakan sosial. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya menuju panggung politik nasional.

Dari Bangku Madrasah ke Dunia Pendidikan

Maman memulai pendidikan dasarnya di SDN Cimalaka III pada 1978–1984. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di MTs Baitul Arqom pada 1984–1987 dan MA Baitul Arqom pada 1987–1990.

Perjalanan akademiknya berlanjut di STAI Majalengka pada 1995–2001. Dalam riwayat pendidikannya, tercatat pula STIE ISM dan UNUSIA. Namun, tahun serta detail program studi kedua institusi tersebut masih perlu dipastikan agar informasi pendidikannya makin lengkap.

Latar belakang pendidikan ini berjalan beriringan dengan kiprahnya di lingkungan pesantren. Sejak 1999, Maman tercatat sebagai pimpinan atau pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan. Peran tersebut memperlihatkan keterlibatannya dalam dunia pendidikan dan pembinaan keagamaan yang berlangsung jauh sebelum kiprahnya di parlemen.

Nggak Cuma Mengajar, Ikut Membangun Lembaga

Di luar aktivitas pesantren, Maman juga punya pengalaman mengelola organisasi dan lembaga. Sejak 1993, ia tercatat menjabat sebagai komisaris RM Langensari. Pada 1999–2004, ia memimpin Yayasan Al-Mizan, lalu menjadi Ketua Dewan Pembina Yayasan Al-Mizan Langensari sejak 2004.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa aktivitasnya nggak hanya berkutat pada kegiatan keagamaan. Ada pula urusan pengelolaan lembaga, pengembangan organisasi, dan tanggung jawab kepemimpinan yang menjadi bagian dari perjalanan kariernya.

Di dunia organisasi, kiprahnya juga cukup beragam. Maman pernah menjadi Ketua Lembaga Dakwah NU Majalengka pada 2004–2008, Wakil Ketua Thoriqoh Mu’tabroh An-Nahdliyah pada 2005–2009, serta Ketua Dewan Kesenian Majalengka pada periode yang sama.

Ia juga tercatat sebagai penasihat Robithoh Ma’ahid Islamiyah, pembina Moderate Moslem Society, dan Dewan Kebijakan Fahmina Institute. Pada 2007, ia mendirikan Tikar Media. Sementara itu, sejak 2010, namanya tercatat sebagai bagian dari board KontraS.

Dari Gerakan Sosial ke Kursi Parlemen

Pengalaman organisasi Maman juga mencakup Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika pada 2010–2014 serta Lembaga Dakwah NU Jawa Barat pada 2011–2015, tempat ia menjabat sebagai ketua.

Beragam pengalaman tersebut memperlihatkan persinggungannya dengan isu keagamaan, kebudayaan, keberagaman, dan gerakan sosial. Meski begitu, pengalaman organisasi tidak otomatis menjadi ukuran keberhasilan politik. Publik tetap perlu melihat bagaimana pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi kerja nyata.

Kini, Maman bertugas di Komisi VIII DPR RI, yang membidangi urusan agama, sosial, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, serta penanggulangan bencana. Ia juga tercatat memiliki penugasan di Panitia Khusus (Pansus) dan Badan Musyawarah DPR RI.

Ruang lingkup kerja ini dekat dengan berbagai persoalan masyarakat, mulai dari pelayanan keagamaan hingga perlindungan kelompok rentan. Karena itu, peran anggota DPR bukan sekadar hadir dalam rapat, tetapi juga membahas kebijakan, menjalankan fungsi pengawasan, dan menyampaikan aspirasi publik.

Pada akhirnya, perjalanan Maman Imanul Haq memperlihatkan bagaimana pengalaman dari pesantren, lembaga pendidikan, dan organisasi sosial bisa menjadi bekal memasuki dunia politik. Namun, tantangan terbesarnya tetap sama seperti wakil rakyat lainnya: membuktikan bahwa jabatan di Senayan benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat.

Sebab, rekam jejak memang penting buat mengenal seorang politikus. Tetapi, hasil kerja nyata tetap menjadi hal yang paling layak ditunggu publik.