Manusiasenayan.id – Di tengah dunia politik yang makin rame sama gimmick dan pencitraan instan, sosok H. Abdi Sumaithi justru hadir dengan gaya yang kalem. Nggak banyak sensasi, nggak sibuk cari viral, tapi rekam jejaknya panjang dan konsisten. Buat warga Banten, nama Abdi Sumaithi bukan pemain baru. Ia adalah salah satu tokoh yang udah lama wara-wiri memperjuangkan aspirasi daerah sampai level nasional.

Lahir di Serang pada 04 April 1949, Abdi tumbuh dari lingkungan pendidikan Islam yang kuat. Ia dikenal sebagai intelektual sekaligus aktivis organisasi sejak muda. Jalur pendidikannya juga nggak main-main. Setelah menempuh studi di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ia melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Imam Ibnu Su’ud Riyadh, Saudi Arabia. Kombinasi pendidikan Timur Tengah dan pengalaman organisasi bikin perspektif politiknya punya warna tersendiri.

Kalau ngomongin pengalaman organisasi, daftar perjalanan Abdi bisa dibilang “anak organisasi banget”. Ia pernah menjadi Ketua Pelajar Islam Indonesia Komda Banten, aktif di Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sampai menjabat Wakil Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Saudi Arabia. Nggak berhenti di situ, Abdi juga pernah menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Asia Tenggara Saudi Arabia dan aktif di berbagai lembaga dakwah maupun pendidikan Islam nasional.

Yang menarik, Abdi juga dikenal sebagai salah satu pendiri Partai Keadilan, partai yang kemudian berkembang menjadi PKS. Dalam perjalanan politiknya, ia sempat menjabat sebagai Anggota DPR RI Periode 2004-2009, sebelum akhirnya melanjutkan kiprah sebagai senator daerah.

Dan sekarang, publik Banten kembali memberikan kepercayaan kepadanya sebagai Anggota DPD RI Masa Jabatan 2024-2029 mewakili Provinsi Banten. Ini bukan periode pertama. Bahkan bukan kedua. Ini adalah periode ketiganya setelah sebelumnya menjabat pada periode 2009-2014 dan 2019-2024. Artinya, lebih dari satu dekade masyarakat Banten masih percaya Abdi Sumaithi bisa jadi jembatan suara daerah di pusat.

Di tengah politik yang sering gaduh, Abdi terlihat seperti figur lama yang tetap bertahan karena konsistensi. Ia bukan tipe politisi yang tiap hari muncul di FYP atau bikin headline kontroversial. Tapi justru itu yang bikin menarik. Sosoknya terasa seperti representasi generasi politisi yang lebih fokus kerja dibanding sekadar tampil.

Sebagai tokoh yang lahir dari dunia pendidikan, dakwah, dan organisasi, Abdi membawa gaya politik yang cenderung tenang namun berisi. Dan di era sekarang, ketika banyak orang mulai capek sama politik penuh drama, karakter seperti ini justru terasa makin relevan.