Manusiasenayan.id – Kalau biasanya kita kenal politisi dari dunia partai atau pemerintahan, perjalanan Bane Raja Manalu punya jalur yang sedikit berbeda. Sebelum duduk di Senayan, ia lebih dulu menghabiskan waktu di dunia jurnalistik dan industri media.

Bane menempuh pendidikan Ilmu Politik di Universitas Indonesia (2001–2005). Beberapa tahun kemudian, ia kembali ke kampus yang sama untuk mengambil Ilmu Administrasi pada 2011–2014. Bekal akademik ini kemudian bertemu dengan pengalaman panjangnya di dunia media dan organisasi.

Dari Ruang Redaksi ke Dunia Politik

Karier profesional Bane dimulai di RCTI. Pada 2006–2013, ia bekerja sebagai jurnalis dan Assignment Editor Desk Politik. Jadi, sebelum menjadi orang yang diberitakan, Bane lebih dulu berada di balik layar yang mengolah berita politik.

Setelah itu, ia pindah ke Metro TV. Pada 2013–2016, Bane dipercaya sebagai Kepala Desk Nasional sekaligus Eksekutif Produser.

Pengalamannya di media tidak berhenti di ruang redaksi. Pada 2017–2020, Bane menjadi Direktur Utama Magna Indonesia.

Perjalanan ini membuat dunia komunikasi, politik, dan isu publik menjadi bagian dari rekam jejak profesionalnya.

Dapat 91 Ribu Suara, Lalu Masuk Senayan

Pada Pemilu 2024, Bane maju sebagai calon anggota DPR RI dari Dapil Sumatera Utara III melalui PDI Perjuangan.

Hasil rekapitulasi KPU mencatat Bane memperoleh 91.169 suara. Angka tersebut mengantarkannya sebagai salah satu calon terpilih DPR RI periode 2024–2029 dari dapil tersebut.

Kini Bane menjalankan tugas sebagai anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan. Komisi ini berkaitan dengan bidang industri, pariwisata, ekonomi kreatif, dan sektor pembangunan terkait lainnya.

Isunya Bukan Cuma di Gedung DPR

Menariknya, pengalaman Bane sebagai orang media terlihat nyambung dengan isu yang ia bawa di parlemen.

Pada 2025, misalnya, Bane terlibat dalam kunjungan Komisi VII ke KEK Sei Mangkei, Sumatera Utara. Ia menyoroti pengembangan kawasan tersebut sebagai bagian dari hilirisasi industri nasional. Salah satu persoalan yang dibahas adalah kebutuhan energi, termasuk gas, untuk mendukung aktivitas industri dan menarik investor.

Di sektor ekonomi kreatif, Bane juga menyoroti kondisi pengrajin ulos di kawasan Tapanuli. Ia mencatat persoalan bahan baku dan pemasaran masih menjadi tantangan bagi para pengrajin.

Sementara di sektor pariwisata, ia ikut membahas pentingnya pendidikan vokasi yang sesuai kebutuhan industri. Dalam kunjungan ke Batam Tourism Polytechnic pada 2026, Bane menyoroti pentingnya kurikulum yang terhubung dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

Pengalaman Organisasi Juga Panjang

Di luar parlemen, Bane punya pengalaman organisasi yang cukup beragam.

Pada 2018–2022, ia tercatat sebagai Koordinator Public Relation Persatuan Gulat Seluruh Indonesia. Sejak 2020, ia menjadi Pembina Yayasan BAGAK.

Kemudian sejak 2024, Bane tercatat sebagai Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Transport Indonesia (FSPTI).

Jadi, kalau dirangkum, perjalanan Bane cukup panjang: mulai dari pendidikan politik, masuk dunia jurnalistik, mengelola perusahaan, aktif di organisasi, sampai akhirnya masuk parlemen.

Dari ruang redaksi ke kursi DPR, kini Bane membawa pengalaman tersebut untuk ikut membahas isu industri, pariwisata, ekonomi kreatif, lingkungan, dan pembangunan di Komisi VII.