Manusiasenayan.id – Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat kembali jadi perhatian. Kali ini, Anggota Komisi IV DPR RI, Rina Sa’adah, mengingatkan pemerintah agar tidak menganggap enteng dampaknya terhadap sektor pangan nasional. Menurutnya, gejolak kurs rupiah bukan sekadar urusan pasar keuangan, tetapi bisa langsung terasa sampai ke meja makan masyarakat.
Rina menilai pemerintah perlu membaca situasi secara lebih jernih dan tidak buru-buru menyimpulkan bahwa pelemahan rupiah sepenuhnya disebabkan faktor dalam negeri. Ia meminta posisi rupiah dibandingkan terlebih dahulu dengan mata uang negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
Kalau ternyata pelemahan mata uang terjadi hampir di seluruh kawasan, besar kemungkinan tekanan tersebut berasal dari faktor eksternal global. Namun sebaliknya, jika rupiah terjatuh lebih dalam dibanding negara tetangga, pemerintah perlu segera mengevaluasi kondisi domestik, mulai dari arus modal keluar hingga menurunnya kepercayaan pasar.
“Yang perlu dilihat bukan hanya angka kurs rupiah terhadap dolar AS, tetapi juga posisi Indonesia dibanding negara-negara lain di kawasan,” kata Rina dalam keterangan tertulis yang diterima Parlementaria, Rabu (3/6/2026).
Meski begitu, politisi PKB tersebut mengingatkan bahwa pemerintah tetap tidak boleh lengah. Sebab, pelemahan rupiah bisa memicu kenaikan biaya impor berbagai bahan baku strategis yang hingga saat ini masih dibutuhkan Indonesia.
Mulai dari kedelai, gandum, garam industri, hingga bahan baku pakan ternak masih banyak didatangkan dari luar negeri. Ketika dolar menguat, biaya impor otomatis ikut naik. Dampaknya tidak berhenti di pelabuhan atau gudang penyimpanan, tetapi merembet ke sektor produksi.
Petani, peternak, dan nelayan menjadi kelompok yang paling berisiko terkena imbasnya. Biaya produksi yang membengkak berpotensi menekan keuntungan mereka, bahkan bisa berujung pada kenaikan harga pangan di tingkat konsumen.
Menurut Rina, yang perlu menjadi perhatian bukan hanya pergerakan kurs semata, melainkan efek berantainya terhadap ketahanan pangan nasional. Ketika biaya impor naik, tekanan terhadap harga pangan dan biaya produksi juga ikut meningkat.
Karena itu, Komisi IV DPR RI terus mendorong pemerintah mempercepat program swasembada pangan. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor yang rentan terguncang dinamika global.
Rina menyebut penguatan industri pakan lokal, pengembangan benih unggul nasional, serta pemberian subsidi yang tepat sasaran kepada petani dan nelayan harus segera dipercepat. Menurutnya, semakin tinggi ketergantungan impor, semakin rentan pula perekonomian nasional terhadap gejolak dunia.
Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah harus semakin kuat agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan pasokan pangan nasional tetap aman di tengah ketidakpastian ekonomi global.
