Manusiasenayan.id – Siapa nih yang kalau buka HP langsung scroll TikTok, Instagram, atau X? Hati-hati, soalnya apa yang muncul di timeline kamu belum tentu menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Bisa jadi, itu cuma hasil “pilihan” algoritma yang sengaja menyajikan konten sesuai kebiasaanmu.

Pesan itu disampaikan Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraini saat menjadi pembicara dalam Webinar Kelas Parlemen bertajuk Beyond The FYP: Peran Parlemen Menjaga Ruang Digital di Tengah Bias dan Jebakan Algoritma yang diikuti mahasiswa dan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia, Jumat (7/8/2026).

Amelia bilang, sekarang ruang digital sudah berubah jadi “alun-alun” baru buat masyarakat. Mau belajar, kerja, belanja, cari hiburan, sampai debat soal isu nasional, semuanya bisa dilakukan lewat internet. Masalahnya, apa yang kita lihat setiap hari di media sosial bukan selalu fakta yang utuh.

“Yang muncul di timeline kita sering kali bukan gambaran utuh dari kenyataan, melainkan hasil seleksi algoritma,” kata Amelia.

Makanya, menurut politisi Fraksi Partai NasDem itu, anak muda nggak boleh cuma jadi penonton di media sosial. Mereka harus melek literasi digital supaya nggak gampang ketipu sama informasi yang berseliweran.

Soalnya, tantangan di dunia digital sekarang makin nggak main-main. Mulai dari hoaks, disinformasi, video deepfake berbasis AI, kebocoran data pribadi, penipuan online, cyberbullying, eksploitasi anak, sampai upaya menggiring opini publik lewat media sosial.

“Kalau kita asal percaya semua yang lewat di timeline, ya gampang banget digiring opininya,” kira-kira begitu pesan yang ingin ditekankan Amelia.

Karena itu, menurutnya, menjaga ruang digital bukan cuma tugas pemerintah atau platform media sosial. Semua pihak, termasuk masyarakat sebagai pengguna internet, harus ikut ambil peran.

Amelia menjelaskan, DPR RI sendiri terus bekerja lewat tiga fungsi utamanya, yaitu legislasi, pengawasan, dan anggaran.

Di bidang legislasi, DPR sedang mendorong lahirnya aturan yang lebih relevan dengan perkembangan teknologi, termasuk melalui pembahasan RUU Penyiaran dan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber. Aturan itu nantinya diharapkan mampu melindungi anak di ruang digital, mengatur penggunaan AI, meningkatkan tanggung jawab platform digital, menciptakan persaingan yang sehat bagi industri media, sekaligus memperkuat keamanan siber nasional.

Nggak cuma bikin aturan, DPR juga terus mengawasi pelaksanaan kebijakan pemerintah, mulai dari perlindungan data pribadi, keamanan siber, pelayanan publik digital, sampai pengelolaan platform digital agar benar-benar berpihak kepada masyarakat.

Sementara lewat fungsi anggaran, DPR ikut mengawal dukungan APBN untuk memperluas akses internet, memperkuat keamanan siber, meningkatkan literasi digital, hingga mencetak SDM digital yang siap bersaing.

Bagi Amelia, urusan privasi digital sekarang bukan lagi sekadar masalah teknologi. Ini sudah menyangkut hak warga negara sekaligus kedaulatan bangsa. Karena itu, perlindungan data pribadi harus terus diperkuat seiring perkembangan teknologi yang makin cepat.

Ia juga mengingatkan bahwa literasi digital hari ini nggak cukup cuma bisa membedakan berita benar atau salah. Anak muda juga harus paham siapa yang membuat narasi, siapa yang diuntungkan, kenapa konten tertentu dibuat viral, sampai bagaimana algoritma bekerja mendorong sebuah konten masuk ke FYP.

“Bahkan informasi yang benar pun bisa membentuk persepsi kalau dikemas dengan sudut pandang tertentu,” jelasnya.

Di sisi lain, Amelia juga menilai DPR RI perlu terus membuka akses informasi kepada publik melalui TVR Parlemen, Parlementaria, situs resmi DPR RI, media sosial, siaran langsung rapat, hingga kanal aspirasi digital. Tujuannya supaya masyarakat bisa ikut mengawasi proses legislasi secara lebih terbuka dan transparan.

Menutup pemaparannya, Amelia mengajak generasi muda untuk memanfaatkan media sosial sebagai ruang menyampaikan aspirasi, berdiskusi sehat, mengawal kebijakan, sekaligus menyebarkan informasi berbasis fakta.

“Jangan cuma ngejar viral. Jadilah pengguna media sosial yang bisa kasih dampak positif,” pesannya.

Dalam webinar tersebut, peserta juga mendapat materi dari Dosen FISIP Universitas Airlangga Suko Widodo yang membahas cara kerja algoritma media sosial, fenomena echo chamber, ancaman misinformasi, hingga tips sederhana buat mengecek kebenaran informasi sebelum ikut menyebarkannya.