Manusiasenayan.id – Siapa bilang koperasi cuma urusan generasi lama? Di Jawa Tengah, koperasi justru lagi dikenalin lebih dekat ke anak muda lewat jalur pendidikan. Pemprov Jateng resmi meluncurkan Program Insersi Pendidikan Perkoperasian, sebuah langkah yang digadang-gadang bisa bikin jutaan pelajar makin paham soal ekonomi gotong royong sejak duduk di bangku sekolah.
Program ini bukan kerja sendirian. Ada kolaborasi antara Pemprov Jawa Tengah, Kementerian Koperasi, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, hingga gerakan koperasi. Tujuannya jelas: ngenalin nilai-nilai koperasi ke siswa tanpa bikin jadwal pelajaran makin padat.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono pun kasih apresiasi atas langkah yang diambil Pemprov Jateng. Menurutnya, program ini bukan cuma langkah berani, tapi juga visioner karena menyiapkan fondasi ekonomi masa depan dari ruang kelas.
Saat peluncuran program di Semarang, Ferry mengingatkan kalau Jawa Tengah punya sejarah panjang dalam dunia koperasi. Bahkan, koperasi pertama di Indonesia lahir di Banyumas. Karena itu, menurutnya wajar kalau Jateng kembali jadi pelopor dalam gerakan penguatan koperasi nasional.
“Nggak berhenti di Jawa Tengah saja, kami berharap provinsi lain juga bisa ikut menjalankan program serupa,” kira-kira begitu pesan yang ingin didorong Menkop.
Lewat program ini, materi koperasi bakal disisipkan ke dalam pelajaran yang sudah ada. Jadi, siswa tetap belajar seperti biasa, tapi sekaligus mendapat pemahaman tentang bagaimana koperasi bekerja, pentingnya gotong royong, dan bagaimana ekonomi kerakyatan bisa berkembang.
Ferry menilai langkah ini penting karena Indonesia butuh lebih banyak generasi muda yang paham koperasi, bukan sekadar tahu namanya. Harapannya, ke depan lahir SDM koperasi yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Nggak main-main, program ini menyasar lebih dari 6,3 juta pelajar dari berbagai jenjang pendidikan di Jawa Tengah. Karena skalanya yang besar, program ini bahkan disebut sebagai investasi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.
Menurut Ferry, pendidikan adalah cara paling masuk akal untuk mengenalkan kembali semangat ekonomi Pancasila kepada generasi muda. Di tengah arus ekonomi yang makin kompetitif, koperasi dinilai tetap relevan karena mengedepankan kebersamaan dan kesejahteraan bersama.
Selain soal pendidikan, Menkop juga menyinggung pentingnya pembaruan aturan koperasi. Saat ini Indonesia masih menggunakan UU Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. Karena itu, pemerintah bersama berbagai pihak terus mengawal pembahasan RUU Perkoperasian di DPR agar koperasi Indonesia punya regulasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut program ini sebagai upaya menanam “benih” ekonomi masa depan. Menurutnya, jutaan pelajar Jawa Tengah sedang dipersiapkan untuk tumbuh menjadi generasi yang mandiri, kreatif, bergotong royong, dan mampu membangun kesejahteraan bersama lewat koperasi.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jateng Eddy S. Bramiyanto menjelaskan bahwa program ini sudah dirancang sejak akhir 2025 melalui proses yang panjang dan melibatkan banyak pihak. Harapannya, Jawa Tengah bisa jadi contoh bagaimana pendidikan koperasi masuk ke sekolah secara natural, relevan, dan dekat dengan kehidupan anak muda.
Kalau biasanya anak sekolah akrab dengan istilah startup, investasi, atau bisnis digital, sekarang saatnya koperasi juga masuk ke obrolan generasi muda. Karena siapa tahu, dari ruang kelas hari ini lahir penggerak ekonomi kerakyatan Indonesia di masa depan.
