Manusiasenayan.id – Kalau dengar kata sampah, yang kebayang biasanya ya bau, kotor, terus ujung-ujungnya numpuk di TPA. Padahal menurut Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, cara pandang kayak gitu sudah waktunya ditinggal. Buat dia, sampah bukan cuma limbah, tapi juga bisa jadi peluang cuan kalau dikelola dengan benar.

Pesan itu disampaikan Bambang saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis Pengurangan Sampah dan Pembinaan Kelompok Masyarakat di Pangkalpinang, Rabu (29/7/2026). Ia mengajak masyarakat mulai move on dari pola lama yang cuma buang-angkut-buang, menuju sistem pengelolaan yang lebih modern, berkelanjutan, dan punya nilai ekonomi.

Menurut legislator asal Bangka Belitung itu, masalah utama persampahan di Indonesia bukan cuma soal banyaknya sampah, tapi karena sistemnya masih belum nyambung. Ia mencontohkan, banyak warga yang sudah rajin memilah sampah dari rumah. Sayangnya, saat truk pengangkut datang, sampah yang sudah dipisahkan malah dicampur lagi.

“Kalau begini terus, orang jadi malas buat memilah sampah karena merasa percuma,” kira-kira begitu pesan yang ingin disampaikan Bambang. Menurutnya, pengelolaan sampah harus dibangun sebagai sistem, bukan sekadar program musiman atau proyek sesaat.

Bambang juga mengingatkan kalau isu sampah sekarang bukan cuma urusan kebersihan, tapi sudah nyambung ke persoalan krisis iklim. Ia menjelaskan, suhu bumi yang terus naik sejak revolusi industri ikut memperparah bencana hidrometeorologi, termasuk banjir besar yang melanda sejumlah daerah di Sumatra pada akhir 2025. Salah satu penyebab yang memperburuk kondisi itu adalah sampah yang tidak dikelola dengan baik hingga menghasilkan emisi gas rumah kaca.

Di Bangka Belitung sendiri, ia menyebut masih ada beberapa tempat pembuangan akhir (TPA), termasuk di Pangkalpinang dan Bangka Tengah, yang masih memakai sistem open dumping. Cara ini dinilai sudah kurang relevan karena menghasilkan gas metana yang berdampak buruk bagi lingkungan.

Karena itu, Bambang mendorong masyarakat semakin aktif menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Menurutnya, banyak jenis sampah, terutama plastik, yang sebenarnya punya harga jual kalau dipilah dan diolah dengan benar. Jadi, daripada cuma numpuk, kenapa nggak sekalian dijadikan sumber penghasilan?

Ia juga menilai teknologi waste to energy belum cocok diterapkan di semua daerah. Soalnya, fasilitas itu butuh pasokan sekitar 1.000 ton sampah per hari, sehingga lebih realistis digunakan di kota-kota besar yang volume sampahnya jauh lebih tinggi.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Bambang bersama Kementerian Lingkungan Hidup menyerahkan 15 unit motor roda tiga untuk angkut sampah dan alat komposter kepada kelompok masyarakat di Bangka Belitung. Bantuan itu diharapkan bisa bikin pengelolaan sampah berbasis masyarakat makin jalan dan semakin banyak warga yang ikut terlibat.

Di akhir kegiatan, Bambang mengingatkan agar seluruh bantuan digunakan sesuai fungsinya. Menurutnya, kalau masyarakat, pemerintah, dan komunitas bisa jalan bareng, sampah nggak lagi cuma jadi masalah lingkungan, tapi bisa berubah jadi aset ekonomi yang benar-benar memberi manfaat buat banyak orang.