Manusiasenayan.id – Belajar Islam ternyata nggak melulu soal duduk manis di kelas atau baca buku tebal. Tahun ini, Kementerian Agama (Kemenag) ngajak masyarakat ngerasain cara baru buat belajar lewat Muharam Islamic Literacy Festival (MILFEST) 1448 H, sebuah festival yang dibikin lebih santai, interaktif, dan pastinya ramah buat semua kalangan.

Acara ini bakal digelar selama empat hari, mulai 30 Juli sampai 2 Agustus 2026, di Gedung Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ) – Pusat Literasi Keagamaan Islam, Ciawi, Bogor. Mengusung tema “Hijrah melalui Literasi Islam Menuju Generasi Beragama, Berdaya, dan Berdampak”, festival ini pengin nunjukin kalau belajar agama juga bisa jadi pengalaman yang seru dan relate sama kehidupan sehari-hari.

Yang bikin menarik, MILFEST nggak cuma soal buku atau kajian. Pengunjung bisa ikut talkshow, bedah buku, berburu produk di bazar UMKM, nonton Islamic fashion show, sampai ngajak adik atau anak ikut lomba mewarnai. Bahkan ada juga cek kesehatan gratis, donor darah, dan wakaf Al-Qur’an buat siapa pun yang ingin berbagi kebaikan.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, bilang kalau festival ini sengaja dibikin supaya literasi Islam terasa lebih dekat dengan masyarakat. Menurutnya, literasi bukan cuma soal rajin baca, tapi juga soal memahami sejarah, nilai, dan ajaran Islam yang masih relevan di tengah kehidupan sekarang.

Arsad berharap MILFEST bisa jadi ruang kumpul yang bikin orang makin semangat berhijrah lewat ilmu. Sebab, belajar tentang Islam seharusnya nggak terasa berat atau membosankan. Justru sebaliknya, bisa dinikmati dengan cara yang menyenangkan sekaligus membawa manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Nggak cuma itu, festival ini juga jadi kesempatan buat masyarakat mengenal lebih dekat Gedung UPQ, tempat yang selama ini menjadi pusat pencetakan mushaf Al-Qur’an standar Indonesia. Lewat program Wisata Literasi Islam, pengunjung bakal diajak melihat langsung proses pencetakan Al-Qur’an yang biasanya nggak bisa disaksikan sembarang orang.

Kasubdirektorat Kepustakaan Islam Kemenag, Dedi Slamet Riyadi, menjelaskan kalau setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 21.00 WIB, pengunjung bebas menikmati berbagai aktivitas yang sudah disiapkan panitia.

Menurut Dedi, festival ini bukan cuma ingin ngedorong budaya membaca, tapi juga jadi tempat kolaborasi antara pemerintah, penerbit, komunitas literasi, pelaku UMKM, lembaga keagamaan, hingga masyarakat umum.

Salah satu spot yang diprediksi bakal ramai adalah area Wisata Literasi Islam. Di sini, pengunjung bisa menjelajahi museum Al-Qur’an, galeri kaligrafi, perpustakaan, area sejarah Islam, sampai melihat proses pencetakan mushaf Al-Qur’an dari zona steril.

Pengalaman itu makin lengkap karena pengunjung juga bakal nonton film edukatif tentang sejarah masuknya Islam ke Indonesia, perkembangan mushaf Al-Qur’an, hingga pentingnya moderasi beragama di tengah masyarakat.

Buat sekolah, majelis taklim, komunitas, atau masyarakat yang pengin datang, panitia menyarankan untuk daftar lebih awal secara online. Soalnya, setiap hari cuma tersedia tiga sesi kunjungan, jadi jangan sampai kehabisan slot.