Manusiasenayan.id – Belajar di sekolah nggak harus selalu berkutat dengan buku teks dan hafalan. Di Manokwari, Papua Barat, budaya lokal kini ikut dibawa ke ruang kelas lewat modul pembelajaran yang digarap Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (Unair).
Lewat cara ini, budaya Papua nggak cuma jadi cerita turun-temurun, tetapi juga bisa membantu siswa memahami pelajaran di sekolah. Mulai dari lingkungan tempat tinggal, aktivitas keluarga, permainan tradisional, sampai cerita rakyat, semuanya bisa dijadikan bahan belajar yang lebih dekat dengan keseharian anak-anak.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Manokwari, Parjiyanti, menyambut baik langkah tersebut. Menurutnya, pendidikan harus terus maju, tetapi jangan sampai bikin generasi muda lupa sama budaya daerahnya sendiri.
Ia menegaskan, perkembangan zaman dan pelestarian budaya bukan dua hal yang harus dipilih salah satunya. Justru, keduanya bisa berjalan beriringan untuk membentuk generasi yang pintar sekaligus punya karakter kuat.
“Saya percaya Tim Ekspedisi Patriot juga bersama-sama bekerja dengan kita untuk menghasilkan satu modul ajar yang nantinya menjadi pedoman dan praktik baik yang bisa kita ambil,” ujar Parjiyanti dalam keterangan tertulis, Minggu (18/10/2026).
Di sisi lain, Koordinator Tim 7 TEP Unair, Imam Gazi, menjelaskan bahwa modul ini disusun berdasarkan kondisi nyata yang ditemukan di sekolah. Tim melihat adanya perbedaan kemampuan membaca antarsiswa serta keterbatasan buku ajar yang masih perlu diatasi.
Karena itu, materi pembelajaran dibuat lebih membumi dan dekat dengan kehidupan murid. Bahasa daerah, kesenian, permainan tradisional, cerita rakyat, pengetahuan lokal, hingga adat istiadat ikut diangkat sebagai bahan belajar.
Contohnya, kegiatan keluarga di kebun atau makanan yang sering dijumpai anak-anak bisa dijadikan pengantar untuk memahami konsep pelajaran. Jadi, siswa nggak cuma belajar teori, tetapi juga menghubungkan materi dengan hal-hal yang mereka kenal sehari-hari.
“Materi disusun dekat dengan realitas kehidupan murid untuk menjawab ketimpangan literasi lintas fase dan keterbatasan buku ajar,” tutur Imam.
Penyusunan modul ini juga nggak dikerjakan sendirian. TEP Unair melibatkan tenaga pendidik dan pemangku kepentingan lewat diskusi kelompok pada 29 September 2026. Masukan mereka digunakan untuk menyesuaikan materi dengan kebutuhan sekolah dan karakteristik siswa.
Upaya ini sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap kualitas pendidikan. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pendidikan menjadi fondasi penting untuk membawa Indonesia menjadi negara maju. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengingatkan bahwa negara harus hadir agar anak-anak, termasuk dari keluarga kurang mampu, tetap punya kesempatan mengenyam pendidikan.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara juga menekankan bahwa keberhasilan program harus dilihat dari dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar jumlah peserta yang dilibatkan.
