Manusiasenayan.id – Kalau ngomongin Garut, yang langsung kepikiran mungkin dodol, pegunungan, atau kuliner khasnya. Tapi ternyata, Garut punya “senjata” lain yang bisa dibawa sampai ke level internasional.

Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Irine Yusiana Roba Putri, mendorong Garut supaya nggak cuma jadi penonton dalam kerja sama internasional. Menurutnya, potensi lokal harus bisa dikemas menjadi bagian dari diplomasi Indonesia dan ujung-ujungnya ngasih dampak langsung buat masyarakat daerah.

Irine menilai konsep multi-track diplomacy bisa jadi jalan buat mewujudkan hal tersebut. Jadi, diplomasi nggak melulu soal pertemuan pejabat atau duduk serius di ruang sidang. Potensi daerah juga bisa ikut “main” dan membuka peluang baru.

Salah satu yang ia soroti adalah Asgar alias pemangkas rambut asal Garut. Keahlian ini sudah lama melekat dengan masyarakat Garut dan menurut Irine punya peluang untuk dikembangkan sebagai komoditas diplomasi tenaga kerja terampil, terutama ke Australia.

“Garut ini terkenal dengan Asgar-nya. Di Australia, keahlian sebagai hairdresser memiliki poin tinggi untuk permanent residence,” ujar Irine saat Kunjungan Kerja BKSAP ke Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (06/08/2026).

Buat Irine, ini bukan sekadar soal cukur rambut. Keahlian Asgar sudah menjadi budaya dan keterampilan spesifik yang terbentuk dalam waktu lama. Artinya, ada modal lokal yang bisa dikembangkan menjadi peluang kerja di pasar internasional.

Nggak berhenti di situ, Irine juga melihat peluang dari minyak akar wangi Garut. Komoditas khas tersebut dinilai punya nilai lebih karena bukan cuma bisa dijual sebagai produk, tetapi juga membawa cerita tentang budaya dan identitas Indonesia.

Potensi itu bisa didorong lewat diplomasi kebudayaan dan kerja sama global, termasuk melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan di Kementerian Kebudayaan.

Irine juga menilai langkah tersebut sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs). Intinya, Garut punya banyak modal buat go global. Tinggal bagaimana pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak bisa merangkainya menjadi kerja sama yang konkret.

“Peluang Garut sangat banyak, tinggal bagaimana kita merajut kemitraan ini bersama-sama,” pungkas Irine.