Manusiasenayan.id – Surabaya lagi-lagi nunjukin kalau mereka gak cuma jago soal pembangunan kota, tapi juga serius urus kesehatan warganya. Kali ini, sorotan datang dari upaya percepatan eliminasi tuberkulosis (TB) yang dinilai punya modal kuat buat jadi contoh nasional.
Anggota Komisi IX DPR RI, Cellica Nurrachadiana, bilang Surabaya sebenarnya udah punya “amunisi” besar buat ngebut ngilangin kasus TB. Bukan cuma fasilitas kesehatan, tapi juga keberadaan sekitar 29 ribu Kader Surabaya Hebat (KSH) yang selama ini aktif bantu masyarakat.
Menurut Cellica, jumlah kader sebanyak itu bukan angka kecil. Mereka bisa jadi ujung tombak pemerintah buat turun langsung ke lapangan, mulai dari edukasi warga sampai bantu mendeteksi orang-orang yang berpotensi kena TB.
“Potensi SDM ini gede banget. Sayang kalau gak dimaksimalkan,” kata politisi Partai Demokrat itu saat ikut kunjungan kerja spesifik Komisi IX DPR RI ke Surabaya, Kamis (21/5/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Komisi IX gak cuma lihat progres penanganan TB, tapi juga ngebedah masalah yang masih bikin penanganan belum maksimal. Salah satu yang disorot adalah masih banyak warga yang terindikasi TB tapi belum semuanya mendapat pendampingan dan penanganan optimal.
Cellica juga ngingetin soal pentingnya sinkronisasi data antara pemerintah daerah dan Kementerian Kesehatan. Soalnya, beda data bisa bikin langkah penanganan jadi lambat bahkan gak tepat sasaran.
Menurut dia, tingginya angka temuan kasus TB sebenarnya bukan berarti program gagal. Justru itu tanda kalau proses pencarian kasus berjalan aktif.
“Yang penting bukan cuma nemuin kasusnya, tapi memastikan pasien rutin minum obat sampai sembuh dan gak nularin ke keluarga,” jelas legislator dari Dapil Jawa Barat VII itu.
Masalah lain yang ikut disorot adalah tingginya mobilitas pasien dari daerah penyangga Surabaya. Banyak pasien berobat di Surabaya, tapi tinggal di kabupaten atau kota lain. Nah, kondisi ini bikin koordinasi antardaerah jadi krusial.
Cellica mendorong supaya komunikasi antar-dinas kesehatan makin solid. Jadi, pasien TB tetap bisa dipantau sampai pengobatan selesai, meskipun berpindah fasilitas kesehatan.
Ia juga menegaskan kalau perang melawan TB gak bisa cuma ngandelin rumah sakit atau puskesmas aja. Perlu kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah pusat, sampai masyarakat.
Dalam hal ini, Kementerian Kesehatan diminta memastikan stok obat, bahan habis pakai, dan dukungan teknis lainnya tetap aman supaya daerah bisa bergerak lebih cepat.
Dengan modal ribuan kader dan komitmen pemerintah daerah, Cellica yakin Surabaya punya peluang besar jadi role model percepatan eliminasi TB di Indonesia. Tinggal sekarang, bagaimana semua potensi itu benar-benar digaspol dan gak jalan sendiri-sendiri.
