Manusiasenayan.id – Isu hantavirus varian Andes lagi bikin banyak negara waspada. Walau Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO bilang risikonya masih rendah dan belum masuk kategori ancaman pandemi global, DPR RI tetap minta pemerintah Indonesia jangan sampai lengah. Soalnya, virus ini punya karakter yang beda dibanding hantavirus lain karena bisa menular antarmanusia lewat kontak erat dalam waktu lama.
Anggota Komisi IX DPR RI, Ravindra Airlangga, menegaskan pemerintah harus segera memperkuat langkah mitigasi nasional sebelum virus itu benar-benar masuk ke Indonesia. Menurutnya, semua pintu masuk negara wajib siaga penuh, mulai dari bandara internasional sampai pelabuhan laut.
“Walaupun WHO bilang risikonya rendah dan ini bukan awal pandemi baru, pemerintah tetap harus siap dengan langkah mitigasi menyeluruh. Kita nggak boleh santai,” kata Ravindra dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Ravindra menyoroti pentingnya pengawasan ketat terhadap penumpang kapal maupun pesawat yang datang dari negara berisiko tinggi, khususnya kawasan Amerika Selatan. Pemerintah diminta melakukan skrining kesehatan secara komprehensif supaya potensi penyebaran virus bisa cepat terdeteksi sejak awal.
Buat yang belum tahu, hantavirus varian Andes memang cukup bikin khawatir karena jadi satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui bisa menular antarmanusia. Virus ini berasal dari Amerika Selatan dan dapat memicu sindrom kardiopulmoner dengan tingkat kematian yang cukup tinggi.
“Karakter virus ini beda karena bisa menular antarmanusia. Walaupun belum ditemukan di Indonesia, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan,” lanjut politisi Fraksi Golkar tersebut.
Di Indonesia sendiri, kasus hantavirus yang pernah ditemukan selama ini masih berasal dari tipe HFRS strain Seoul Virus. Penularannya terjadi lewat tikus got maupun tikus rumah, bukan dari manusia ke manusia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sejak 2024 sampai minggu ke-16 tahun 2026 tercatat ada 23 kasus terkonfirmasi di Indonesia. Dari jumlah itu, 20 pasien dinyatakan sembuh, sementara tiga lainnya meninggal dunia.
Kasus tersebut tersebar di beberapa wilayah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, hingga Nusa Tenggara Timur.
Selain memperketat pengawasan di pintu masuk negara, Ravindra juga mendorong adanya kolaborasi kuat antara pemerintah pusat dan daerah. Fokusnya mulai dari perbaikan sanitasi lingkungan, pengendalian populasi tikus, sampai pengawasan kesehatan di kawasan rawan seperti pelabuhan, gudang logistik, permukiman padat, dan wilayah pascabanjir.
Menurutnya, Indonesia butuh sistem mitigasi nasional yang benar-benar terintegrasi. Mulai dari surveilans epidemiologi, kesiapan laboratorium, rumah sakit, hingga respons cepat di daerah harus diperkuat dari sekarang.
“Ketahanan kesehatan nasional harus jadi bagian penting dari ketahanan negara. Kalau sistem kita kuat, ancaman penyakit menular bisa lebih cepat dideteksi dan ditangani,” pungkasnya.
