Manusiasenayan.id – Kalau selama ini isu lingkungan cuma dianggap urusan aktivis atau pemerintah, mungkin sekarang saatnya kita mikir ulang. Sebab menurut Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) RI, Moh Jumhur Hidayat, krisis lingkungan yang makin terasa hari ini nggak cukup diselesaikan dengan teknologi atau kebijakan semata. Ada satu hal yang lebih mendasar yang perlu dilakukan: tobat ekologis.
Konsep ini menjadi salah satu fondasi dalam gerakan besar penanaman 2 miliar pohon di Indonesia. Bukan sekadar program penghijauan biasa, gerakan ini diharapkan mampu mengubah cara manusia memandang alam sekaligus memperbaiki hubungan yang selama ini sering berjalan timpang.
Dalam acara Sarasehan Gerakan Menanam Bambu – Selamatkan Bumi di Bogor, Jawa Barat, Jumhur menegaskan bahwa persoalan lingkungan saat ini sudah semakin kompleks. Mulai dari perubahan iklim, kerusakan lahan, pencemaran lingkungan, hingga hilangnya keanekaragaman hayati menjadi tantangan yang nggak bisa lagi diselesaikan hanya dengan pendekatan teknis.
Menurutnya, masyarakat perlu membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.
“Tobat ekologis adalah perubahan cara pandang dan perilaku kita terhadap alam. Kita tidak cukup hanya memahami masalah lingkungan, tetapi harus menjadi bagian dari solusi melalui tindakan nyata,” tegas Jumhur.
Salah satu bentuk nyata dari gerakan tersebut adalah memperkuat penanaman bambu sebagai solusi berbasis alam atau nature-based solutions. Bambu dipilih bukan tanpa alasan. Tanaman ini punya banyak manfaat ekologis, mulai dari menjaga tata air, mengendalikan erosi, hingga menjadi penyerap karbon alami yang efektif.
Di tengah ancaman krisis iklim global, keberadaan bambu dinilai mampu menjadi salah satu instrumen penting dalam upaya rehabilitasi lingkungan sekaligus meningkatkan ketahanan ekosistem.
Jumhur menjelaskan bahwa program penanaman 2 miliar pohon merupakan bagian dari agenda besar nasional untuk mempercepat pemulihan ekosistem, merehabilitasi lahan kritis, serta memperkuat ketahanan lingkungan Indonesia dalam jangka panjang.
Namun baginya, keberhasilan gerakan ini tidak hanya diukur dari berapa banyak pohon yang berhasil ditanam. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat ikut merawat dan menjaga pohon-pohon tersebut agar manfaatnya benar-benar dirasakan dalam jangka panjang.
“Yang terpenting bukan hanya menanam, tetapi memastikan gerakan ini hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Semangat yang sama juga disampaikan Ketua Yayasan Pengrajin Bambu Indonesia, Abah Jatnika. Ia menilai bambu bukan hanya tanaman konservasi, tetapi juga bagian dari identitas budaya bangsa yang telah melahirkan berbagai karya bernilai tinggi, mulai dari arsitektur tradisional hingga alat musik angklung.
Karena itu, Gerakan Menanam Bambu Nusantara diharapkan tidak hanya membantu memperbaiki kondisi lingkungan, tetapi juga menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam pembangunan berkelanjutan.
Lewat gerakan penanaman 2 miliar pohon ini, KLH/BPLH mengajak pemerintah, komunitas, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat untuk bergerak bersama. Sebab menjaga bumi bukan pekerjaan satu pihak saja. Di tengah ancaman krisis lingkungan yang semakin nyata, mungkin memang sudah waktunya manusia berhenti sekadar mengeluh dan mulai bertobat kepada alam.
