Manusiasenayan.id – Kalau dengar kata anggota DPD RI, mungkin yang langsung kepikiran adalah orang-orang yang sibuk rapat atau kunjungan kerja ke daerah. Padahal, nggak sedikit senator yang punya latar belakang sebagai akademisi. Dulu mereka mengajar di kampus, meneliti, sampai menulis buku. Sekarang, ilmu yang mereka kumpulkan di dunia pendidikan dibawa ke Senayan buat memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Tiga nama berikut jadi contoh kalau pendidikan dan politik bisa jalan bareng.

Maria Goreti: Dari Mengajar Mahasiswa ke Menyuarakan Kalimantan Barat

Sebelum dikenal sebagai Senator DPD RI asal Kalimantan Barat, Maria Goreti lebih dulu berkecimpung di dunia akademik. Ia menempuh pendidikan S1 Ilmu Komunikasi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta lalu melanjutkan S2 Sosiologi Pembangunan di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Bekal akademiknya kemudian ia bagikan sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi di Pontianak. Pengalaman mengajar membuatnya dekat dengan persoalan pendidikan, pembangunan daerah, hingga dinamika sosial masyarakat.

Tahun 2004 menjadi titik awal langkahnya di DPD RI. Sejak saat itu, masyarakat Kalimantan Barat terus memberikan kepercayaan hingga akhirnya kembali terpilih untuk periode 2024–2029.

Kalau disederhanakan ala bahasa tongkrongan, kisah Maria Goreti bisa dibilang begini: dulu ngajarin mahasiswa, sekarang gantian nyuarain aspirasi warga Kalbar di Senayan.

Dr. Filep Wamafma: Akademisi yang Membawa Buku ke Ruang Kebijakan

Kalau ada senator yang identik dengan dunia akademik, salah satunya adalah Dr. Filep Wamafma, S.H., M.Hum.

Ia menyelesaikan pendidikan hingga Doktor Ilmu Hukum. Sebelum aktif di DPD RI, Filep lebih dulu menjalani karier sebagai dosen, sekaligus aktif melakukan penelitian dan menghasilkan berbagai karya ilmiah.

Buat Filep, menulis bukan sekadar hobi. Ia dikenal produktif menerbitkan buku dan karya ilmiah yang membahas hukum, HAM, dan kebijakan publik. Aktivitas intelektual itu tetap berjalan meski kini menjalankan tugas sebagai Senator DPD RI mewakili Papua Barat.

Kalau pakai bahasa yang lebih santai, Filep bisa disebut “anaknya perpustakaan banget.” Ilmu yang dulu banyak dipakai di ruang kelas, sekarang dimanfaatkan untuk ikut memperjuangkan berbagai kepentingan masyarakat Papua Barat melalui jalur representasi daerah.

Dr. H. Hilmy Muhammad: Mengajar, Menulis, Lalu Mengabdi untuk DIY

Nama Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. sudah lama dikenal di lingkungan akademik dan keagamaan. Ia menyandang gelar doktor, aktif sebagai dosen di perguruan tinggi Islam, sekaligus rutin mengajar, berdakwah, dan menulis.

Selain dikenal sebagai akademisi, Hilmy juga merupakan tokoh intelektual Nahdlatul Ulama (NU) yang kerap menyuarakan gagasan tentang pendidikan, kebudayaan, dan keagamaan.

Kini, perannya bertambah sebagai Senator DPD RI dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pengalaman panjang di dunia pendidikan menjadi modal penting saat memperjuangkan berbagai aspirasi masyarakat DIY di tingkat nasional.

Kalau diringkas dengan bahasa sederhana, kisahnya adalah: biasanya berbagi ilmu di kelas, sekarang juga ikut nyari solusi buat masyarakat DIY.

Ilmu Nggak Berhenti di Kampus

Ketiga senator ini menunjukkan bahwa belajar dan mengajar bukan tujuan akhir, melainkan bekal untuk memberikan manfaat yang lebih luas. Dari ruang kuliah hingga ruang sidang, mereka membawa pengalaman akademik untuk ikut merumuskan gagasan sekaligus menyuarakan kepentingan daerah masing-masing.

Karena pada akhirnya, ilmu terbaik bukan cuma yang diajarkan di kelas, tapi juga yang benar-benar diperjuangkan buat masyarakat.