ManusiaSenayan.id – Di saat dunia lagi penuh drama geopolitik dan arah kerja sama global makin nggak jelas, ada sekelompok negara yang pelan tapi pasti mulai naik panggung. Mereka tergabung dalam MIKTA—alias Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia—yang dikenal sebagai negara middle power. Ibaratnya, mereka bukan bos final, tapi justru jadi penyeimbang biar game dunia tetap fair.
Peran MIKTA makin terasa penting ketika negara adidaya seperti Amerika Serikat cenderung mundur dari berbagai kerja sama internasional, mulai dari WHO sampai Perjanjian Paris. Kondisi ini bikin sistem global butuh aktor lain yang mau tetap main bareng dan nggak egois.
MIKTA sendiri dibentuk sejak 2013 di sela Sidang Majelis Umum ke-68 PBB. Tujuannya jelas: memperkuat multilateralisme di berbagai sektor, mulai dari ekonomi, sosial, hingga politik. Kuasa Usaha Kedutaan Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Park Soo-deok, menegaskan peran strategis ini dengan mengatakan, “MIKTA dapat memperkuat suara kolektif dan berperan sebagai kekuatan penyeimbang dalam urusan global. Peran (negara) kekuatan tengah saat ini tidak pernah lebih penting dari sebelumnya.”
Saat ini, Korea Selatan memegang keketuaan MIKTA dengan tiga agenda utama: membangun perdamaian dunia, mendorong keterlibatan anak muda, dan mempercepat pencapaian SDGs. Park juga menambahkan, “Ini tidak semata mencerminkan arah kebijakan Korea, tapi juga menggambarkan aspirasi kolektif dan posisi kami sebagai negara middle power.”
Pandangan serupa datang dari Kuasa Usaha Kedubes Meksiko untuk Indonesia, Alonso Martin. Ia menyebut MIKTA sebagai jembatan antara negara maju dan berkembang, sekaligus pelengkap forum global lain seperti BRICS. Menurutnya, “MIKTA harus tetap menjunjung multilateralisme, solusi kreatif untuk tantangan global, perubahan iklim, keuangan, ekonomi, dan menjadi jembatan penghubung negara berkembang dan negara maju.”
Indonesia pun melihat MIKTA sebagai forum strategis. Namun, Kementerian Luar Negeri RI mengakui masih ada PR besar. Direktur Pembangunan, Ekonomi, dan Lingkungan Hidup Kemlu RI, Tri Purnajaya, berharap kerja sama MIKTA bisa lebih konkret, dengan menyatakan, “Saya memiliki harapan MIKTA mempunyai keinginan untuk lebih besar, termasuk dalam kerja sama ekonomi, perdagangan, dan investasi.”
Singkatnya, MIKTA punya potensi besar. Tinggal bagaimana caranya supaya nggak cuma wacana, tapi benar-benar berdampak nyata.
