ManusiaSenayan.id – Nataru 2025 itu vibes-nya meriah: lampu Natal kinclong, mal rame kayak gratis, tempat wisata penuh manusia yang pengin “healing” (padahal kadang cuma pindah stres). Story IG isinya staycation, promo, dan pemandangan. Tapi di balik itu semua, ada realita yang nggak se-glow up itu: dapur warga berpenghasilan rendah lagi kena plot twist.
Soalnya, harga bahan pokok naiknya tuh bukan “naik dikit ya”, tapi naiknya kayak semangat awal tahun—tinggi banget. Beras, cabai, bawang, telur, ayam, sampai daging, kompak merangkak naik. Buat sebagian orang mungkin cuma “yah nambah sedikit”, tapi buat pekerja harian dan masyarakat kecil, ini bisa bikin dompet auto meditasi.
Anggota Komisi IV DPR RI, Johan Rosihan, bilang kenaikan harga pangan jelang dan selama Nataru 2025 nggak bisa terus-terusan dimaafin cuma pakai alasan “permintaan meningkat”. Kalau harga melonjak tajam dan nggak wajar, berarti ada masalah di distribusi dan pengawasan.
Johan juga mengingatkan, “Kenaikan harga yang berlebihan mengindikasikan terganggunya rantai pasok pangan serta potensi lemahnya pengawasan di tingkat lapangan.” Dan yang paling nyelekit tapi bener: “Negara tidak boleh absen dalam situasi seperti ini.” Intinya, pemerintah jangan cuma hadir pas rapat, tapi juga hadir di pasar—biar nggak ada yang main harga pas momen sensitif.
Menurutnya, keluhan soal mahalnya beras, cabai, bawang, telur, hingga daging ayam itu hampir selalu muncul tiap libur panjang. Dan buat masyarakat kecil, “kenaikan harga sekecil apa pun” dampaknya bisa besar banget.
Data IKAPPI juga bikin kening naik: bawang merah dari Rp35 ribu jadi Rp40 ribu/kg, bawang putih Rp40 ribu ke Rp50 ribu/kg, cabai rawit yang sempat turun ke Rp45 ribu balik naik sampai Rp80 ribu/kg. Ayam dari Rp35 ribu jadi Rp45 ribu/kg, daging sapi dari Rp130 ribu jadi Rp140 ribu/kg.
Kesimpulannya: Nataru harusnya musim bahagia, bukan musim “harga naik rutin tahunan”. Healing boleh, tapi jangan sampai rakyat kecil disuruh “healing dari lapar”.
