Manusiasenayan.id – Di tengah politik yang sering terasa penuh formalitas, nama Agita Nurfianti hadir dengan vibe yang cukup berbeda. Nggak terlalu banyak gimmick, tapi punya rekam jejak yang pelan-pelan bikin orang mulai melirik. Perempuan yang kini duduk sebagai anggota DPD RI dari Jawa Barat ini termasuk salah satu wajah baru di Senayan yang datang dengan pendekatan yang lebih humanis.
Agita Nurfianti, S.Psi. lahir di Bandung pada 23 Agustus 1984, kota yang juga membentuk banyak fase hidupnya. Dari kota kembang itu, Agita tumbuh, menempuh pendidikan, sampai akhirnya terjun ke dunia profesional sebelum masuk ke politik nasional.
Ia merupakan lulusan S1 Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran (Unpad) yang menamatkan studinya pada tahun 2007. Latar belakang psikologi ini bukan cuma sekadar gelar di belakang nama. Cara berpikirnya dalam melihat persoalan publik sering kali berangkat dari sudut pandang manusia: memahami perilaku, kebutuhan, dan dinamika sosial masyarakat.
Sebelum dikenal sebagai senator, Agita sempat merasakan dunia profesional di sektor BUMN. Ia pernah menjabat sebagai HRD di PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) pada periode 2007–2008. Pengalaman di bidang sumber daya manusia ini memberinya perspektif soal dunia kerja, organisasi, dan bagaimana kebijakan bisa berdampak langsung pada kehidupan banyak orang.
Langkahnya ke dunia politik kemudian membawanya ke panggung nasional. Dalam Pemilu 2024, Agita berhasil terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari Daerah Pemilihan Jawa Barat. Posisi ini bukan main-main. Jawa Barat adalah provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, sehingga aspirasi yang harus ia bawa ke pusat juga sangat beragam.
Sebagai senator dari Dapil Jawa Barat, Agita punya tanggung jawab besar untuk memastikan suara daerah tidak hilang di tengah kebijakan nasional. Peran anggota DPD memang berbeda dengan DPR. Mereka fokus membawa aspirasi daerah, mengawal kebijakan terkait otonomi daerah, serta memastikan pembangunan pusat tetap berpihak pada kebutuhan wilayah.
Menariknya, Agita dikenal punya gaya komunikasi yang cukup cair. Tidak terlalu kaku seperti stereotip politisi pada umumnya. Pendekatannya sering lebih dialogis—mendengar dulu, baru bicara. Mungkin ini juga efek dari latar belakang psikologi yang membuatnya terbiasa memahami sudut pandang orang lain.
Bagi banyak anak muda Jawa Barat, sosok Agita bisa jadi contoh bahwa jalan menuju politik tidak selalu harus dimulai dari panggung besar. Bisa saja dimulai dari pendidikan, pengalaman profesional, lalu perlahan masuk ke ruang kebijakan.
Di Senayan, perjalanan Agita Nurfianti mungkin masih terbilang baru. Tapi satu hal yang jelas: ia datang membawa misi untuk memastikan suara masyarakat Jawa Barat tetap terdengar. Dan di tengah politik yang sering terasa jauh dari rakyat, pendekatan yang lebih manusiawi seperti ini justru jadi sesuatu yang segar.
