Manusiasenayan.id – Ngomongin sekolah zaman sekarang, rasanya nggak cukup lagi cuma bahas nilai, ranking, atau siapa paling pintar di kelas. Ada hal yang makin krusial tapi sering kelewat: kesehatan mental anak dan remaja. Dan ini bukan sekadar isu receh—ini sudah masuk level darurat.

Anggota Komisi X DPR RI, Lestari Moerdijat, blak-blakan bilang kalau kondisi kesehatan mental generasi muda kita lagi nggak baik-baik saja. Menurutnya, semua pihak harus gerak bareng dan bikin langkah yang terintegrasi buat ngatasin masalah ini.

“Ini soal masa depan bangsa. Kalau nggak ditangani serius, kita bisa kehilangan satu generasi,” tegas perempuan yang akrab disapa Rerie itu.

Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia awal 2026 juga nggak kalah bikin kaget. Sekitar 5% anak dan remaja di Indonesia mengalami gangguan mental, terutama depresi dan kecemasan. Bahkan dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Maret 2026, satu dari sepuluh anak terindikasi punya masalah kesehatan jiwa.

Bayangin, dari 7 juta anak yang dicek, lebih dari 363 ribu mengalami gejala depresi dan sekitar 338 ribu kena kecemasan. Tapi yang bikin makin miris, cuma 2,6% yang benar-benar dapat penanganan profesional. Sisanya? Ya, berjuang sendiri.

Rerie juga menyoroti beberapa kasus ekstrem yang sempat viral, seperti anak yang tega menghabisi orang tuanya di Sumbawa dan Semarang. Menurut dia, ini bukan kejadian random. Ini adalah gejala dari sistem yang gagal ngajarin anak buat ngerti diri sendiri.

“Sekolah terlalu fokus ke angka. Ranking dikejar, tapi emosi dan mental diabaikan,” katanya.

Realitanya, banyak anak sekarang tumbuh di tengah tekanan yang makin kompleks—dari akademik, sosial, sampai digital. Tapi sayangnya, mereka nggak dibekali skill buat ngolah semua itu. Akhirnya, sekolah yang seharusnya jadi tempat berkembang malah berubah jadi sumber tekanan.

Kalau kondisi ini terus dibiarkan, bukan nggak mungkin kita lagi-lagi bikin sistem yang “pintar di otak, tapi rapuh di mental.”

Makanya, Rerie mendorong supaya kesehatan mental masuk jadi bagian inti dalam kurikulum nasional. Bukan cuma tambahan, tapi jadi fondasi. Karena generasi yang kuat itu bukan cuma yang cerdas secara akademik, tapi juga tangguh secara mental.

Dia juga menegaskan pentingnya komitmen dari semua pihak—pemerintah, sekolah, sampai orang tua—buat bangun sistem pendidikan yang lebih manusiawi. Sistem yang nggak cuma ngejar prestasi, tapi juga ngebentuk karakter dan daya tahan anak buat menghadapi dunia nyata.

Singkatnya, kalau kita mau punya masa depan yang solid, kita harus mulai dari sekarang: bikin generasi yang nggak cuma pintar, tapi juga waras.