Manusiasenayan.id – Di tengah riuh politik yang sering penuh drama, sosok Anang Susanto Suhendar hadir dengan gaya yang cenderung kalem tapi tetap “ngena”. Nggak banyak sensasi, tapi rekam jejaknya nunjukin satu hal: kerja nyata jalan terus.

Lahir di Bandung, Anang tumbuh dari lingkungan yang cukup sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Perjalanan pendidikannya juga nggak instan. Ia mengawali dari SDN 1 Kamasan (1965–1971), lanjut ke SMPN 1 Banjaran (1971–1974), hingga SMAN IV Bandung (1974–1977). Dari situ, langkahnya makin serius dengan masuk ke Institut Teknologi Bandung (ITB), Teknik Geodesi (1986)—jurusan yang dikenal nggak main-main dari segi teknis dan analisis.

Nggak berhenti di situ, Anang juga melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana di UNNUR (2006–2008), Ilmu Administrasi. Kombinasi latar belakang teknik dan administrasi ini bikin cara berpikirnya cukup unik: teknis, terstruktur, tapi tetap paham bagaimana sistem birokrasi berjalan.

Sebelum terjun penuh ke dunia politik, Anang sempat berkiprah di sektor profesional. Ia pernah bekerja di PT Aston Polaris, pengalaman yang jadi bekal penting buat memahami dunia kerja dan manajemen di lapangan. Meski detail posisinya nggak banyak terekspos, fase ini jelas membentuk perspektifnya sebelum akhirnya masuk ke jalur publik.

Karier politiknya mulai benar-benar terasa saat ia dipercaya menjadi Ketua DPRD Kabupaten Bandung periode 2014–2019. Dari sini, Anang dikenal sebagai sosok yang cukup dekat dengan masyarakat. Bukan tipe yang jaga jarak—justru sering turun langsung, ngobrol santai tapi serius soal persoalan warga.

Masuk ke level nasional sejak 2019, Anang kini duduk sebagai Anggota DPR RI dan dipercaya di Komisi II DPR RI. Komisi ini bukan sembarang komisi—mereka ngurusin isu-isu vital seperti pemerintahan daerah, otonomi, hingga pertanahan. Bisa dibilang, ini “dapur” kebijakan yang dampaknya langsung terasa ke masyarakat luas.

Yang menarik, meski posisinya strategis, Anang tetap mempertahankan gaya low profile. Nggak terlalu cari spotlight, tapi konsisten kerja. Dalam berbagai agenda reses, ia dikenal aktif menyerap aspirasi warga—dari yang sifatnya administratif sampai persoalan mendasar di daerah.

Memang, kalau dilihat dari data formal, ia nggak tercatat punya banyak penghargaan atau riwayat organisasi yang terekspos publik. Tapi justru di situlah letak daya tariknya: bukan soal banyaknya titel, tapi bagaimana konsistensi kerja itu dijaga.

Singkatnya, Anang Susanto Suhendar adalah contoh politisi yang bergerak tanpa banyak noise. Di tengah era politik yang serba pencitraan, gaya seperti ini terasa beda—lebih tenang, tapi tetap berdampak.