Manusiasenayan.id – Di tongkrongan politik yang kadang terasa penuh “jarak sosial”, nama Rudianto Lallo justru sering muncul dengan kesan yang lebih cair. Nggak terlalu ribet, tapi tetap tajam. Sosok yang satu ini bukan pemain baru—track record-nya panjang, dan yang bikin menarik, dia tumbuh dari bawah, bukan ujug-ujug jadi.
Cerita Rudianto dimulai dari Makassar. Ia mengenyam pendidikan dari SDN 109 Lakkang, lanjut ke Pesantren GUPPI, lalu SMAN 6 Makassar—fase yang ngebentuk karakter disiplin sekaligus sosial. Jalur hukumnya mulai serius saat kuliah di Universitas Hasanuddin (Ilmu Hukum, 2002–2009), sebelum kemudian melanjutkan studi lagi di Universitas Muslim Indonesia (2021–2023). Buat dia, hukum bukan sekadar teori, tapi alat buat ngerti realita.
Kariernya juga nggak instan. Tahun 2009–2014, dia mulai sebagai advokat di Law Firm Lucas, S.H. & Partner. Dari situ, dia paham betul gimana hukum bekerja di lapangan—nggak selalu ideal, kadang penuh kompromi.
Masuk ke dunia politik, langkahnya cukup progresif. Tahun 2014–2018 jadi anggota DPRD Kota Makassar, lalu naik jadi Wakil Ketua (2018–2019), dan puncaknya, Ketua DPRD Kota Makassar (2019–2024). Di fase ini, namanya mulai dikenal luas sebagai figur yang bisa menjembatani kepentingan publik dan kebijakan.
Sekarang, dia duduk di DPR RI sebagai bagian dari Komisi III—komisi yang ngurus hukum, HAM, dan aparat. Nggak ringan, tapi justru di situ keliatan karakter aslinya: kritis tapi tetap membumi.
Di luar jabatan formal, Rudianto juga punya “DNA organisasi” yang kuat. Dari zaman kampus, dia aktif di BEM Fakultas Hukum Unhas, bahkan sempat jadi koordinator di Senat Mahasiswa Hukum Indonesia. Sampai sekarang, dia masih pegang peran penting, seperti Ketua Umum IKA SMAN 6 Makassar dan Ketua IKA Unhas Kota Makassar. Artinya, dia bukan tipe yang putus dari akar.
Soal apresiasi, dia juga nggak kosong. Dari Amanagappa Awards (2009) sampai penghargaan dari berbagai organisasi seperti Serikat Siber Indonesia (2023), itu jadi semacam pengakuan kalau kiprahnya memang terasa.
Yang bikin Rudianto beda mungkin bukan sekadar jabatan, tapi cara dia melihat hukum. Buat dia, hukum itu harus punya rasa—nggak cuma pasal, tapi juga keadilan yang bisa dirasakan orang banyak.
Di tengah banyaknya politisi yang sibuk “tampil”, Rudianto Lallo justru terlihat lebih fokus “berfungsi”. Dan di era sekarang, itu bukan cuma beda—tapi juga penting.
