Manusiasenayan.id – Di tengah obrolan soal lingkungan yang makin sering muncul di tongkrongan, Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Aria Bima, melempar challenge serius buat mahasiswa: jangan cuma jadi penonton, tapi ikut turun langsung dalam proses bikin kebijakan—terutama soal revisi aturan pengelolaan sampah.
Pesan itu ia sampaikan saat membuka Parlemen Kampus di Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Selasa (5/5/2026). Dalam forum itu, Aria terang-terangan bilang kalau DPR lagi ngegas revisi undang-undang persampahan, dan prosesnya gak mau lagi eksklusif.
Menurut dia, revisi ini bakal melibatkan banyak pihak, mulai dari akademisi sampai mahasiswa. Bukan sekadar formalitas, tapi bagian dari upaya bikin proses legislasi lebih transparan dan akuntabel.
“Lewat naskah akademik dan rapat dengar pendapat umum, kita libatkan berbagai stakeholder,” kata Aria.
Yang menarik, Aria justru menaruh harapan besar ke mahasiswa. Di matanya, kampus itu masih jadi ruang yang relatif steril dari kepentingan politik praktis. Artinya, mahasiswa punya posisi strategis sebagai kelompok yang kritis tapi tetap netral.
Di era digital kayak sekarang, mahasiswa juga punya akses informasi yang gak main-main. Dari isu global sampai lokal, semua bisa diakses dalam hitungan detik. Modal ini, kata Aria, harus dipakai buat ngasih masukan yang berbasis data, bukan sekadar opini liar.
Ia juga wanti-wanti, kritik itu penting, tapi harus tetap konstruktif. Mahasiswa diminta gak cuma jago nyinyir, tapi juga mampu nawarin solusi yang relevan dan grounded secara akademis.
“Kami berharap mahasiswa tetap kritis, argumentatif, dan bisa kasih solusi tanpa kepentingan lain di luar kebenaran akademis,” tegasnya.
Lebih jauh, Aria menilai Parlemen Kampus bisa jadi ruang latihan yang sehat buat budaya diskusi. Bukan cuma buat yang vokal, tapi juga buat mereka yang selama ini cenderung diam atau bahkan apatis.
Menurutnya, forum seperti ini penting untuk “menjembatani” dua kutub mahasiswa: yang terlalu santai dan yang terlalu reaktif. Harapannya, lahir generasi yang gak cuma cerewet, tapi juga solutif.
Di akhir, Aria menutup dengan pesan yang cukup relate buat anak muda: berani bicara itu langkah awal.
“Parlemen kampus itu soal keberanian. Yang penting berani bicara dulu, kemampuan akan mengikuti,” pungkasnya.
