Manusiasenayan.id – Musibah di perlintasan sebidang Bekasi Timur bikin Komisi V DPR RI naik pitam. Mereka ngerasa sistem keamanan kereta di Indonesia masih terlalu “old school” buat ukuran zaman yang udah serba digital kayak sekarang. Salah satu yang paling disorot? Minimnya teknologi CCTV dan sistem visual yang langsung nyambung ke kabin masinis.

Anggota Komisi V DPR RI, Sudjatmiko, bilang kalau kondisi ini gak bisa lagi dianggap sepele. Menurut dia, teknologi keamanan kereta sekarang masih banyak celah dan itu bahaya banget buat keselamatan penumpang maupun warga sekitar rel.

Saat kunjungan kerja ke Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Jumat (22/05/26), Sudjatmiko langsung ngomong blak-blakan soal perlunya upgrade besar-besaran di sistem keamanan kereta. Ia mendorong pemerintah dan PT KAI buat gercep melakukan digitalisasi di ruang kabin masinis dan sistem komunikasi darurat.

“Kalau komunikasi kereta sama ruang kendali masih lemot atau gak nyambung, ini rawan banget. Padahal teknologi sekarang harusnya bisa nyelametin banyak nyawa,” katanya.

Menurut dia, masalah paling krusial saat ini adalah blind spot alias titik buta yang masih dialami masinis, terutama pas malam hari. Bayangin aja, jarak pandang masinis kadang cuma sekitar 100 sampai 200 meter. Padahal kereta melaju kencang dan butuh waktu buat berhenti total.

Makanya, Sudjatmiko ngusulin supaya setiap kabin masinis dipasang monitor visual yang terkoneksi langsung sama CCTV di perlintasan dan stasiun. Jadi masinis bisa mantau kondisi rel dari jarak sekitar 1.000 sampai 2.000 meter ke depan.

“Kalau ada motor mogok, orang nyelonong, atau hambatan lain di rel, harusnya bisa kebaca lebih awal. Jangan nunggu kejadian dulu baru panik,” lanjut Politisi Fraksi PKB itu.

Ia juga ngebandingin kondisi KRL dan kereta konvensional dengan transportasi modern lain kayak LRT, MRT, sampai Kereta Cepat yang udah pakai teknologi keamanan canggih seperti Automatic Train Protection (ATP).

Menurutnya, sistem kayak gitu harusnya gak cuma dipakai di transportasi premium doang. Kereta biasa dan KRL juga wajib naik level kalau serius ngomongin keselamatan publik.

Sudjatmiko bahkan nyindir keras lambatnya adaptasi digital di dunia perkeretaapian Indonesia. Menurut dia, tragedi besar kayak tabrakan Bintaro tahun 1986 harusnya jadi alarm keras supaya sistem keamanan kereta berkembang jauh lebih modern.

“Sekarang zamannya udah digital semua, masa sistem keamanan kereta masih kalah canggih?” tegasnya.