Manusiasenayan.id – Drama birokrasi lagi panas di Brebes. Kali ini bukan soal rapat alot atau program daerah, tapi soal dugaan ribuan ASN yang ketahuan ngakalin absensi pakai aplikasi ilegal. Jumlahnya juga nggak main-main, tembus sekitar 3.000 ASN. Kasus ini langsung bikin DPR RI ikut pasang alarm soal disiplin pegawai dan kondisi reformasi birokrasi di daerah.

Anggota Komisi II DPR RI, Shintya Sandra Kusuma, bilang kalau ASN itu bukan cuma pegawai biasa. Mereka adalah muka pelayanan pemerintah. Jadi kalau urusan disiplin aja masih bisa dimainin, publik jelas bakal makin susah percaya.

“ASN adalah wajah pelayanan pemerintah. Kedisiplinan dan integritas harus menjadi prioritas utama. Good policy harus diikuti dengan good implementation,” tegas Shintya.

Menurut dia, pemerintah daerah harus serius berbenah dan jangan nganggep kasus kayak gini cuma angin lewat. Reformasi birokrasi katanya nggak boleh cuma keren di slogan, tapi juga harus jalan beneran di lapangan.

Awalnya, kasus ini kebongkar gara-gara Pemkab Brebes bikin semacam “jebakan Batman”. Server resmi absensi sengaja dimatiin buat ngetes sistem. Tapi anehnya, pas server udah off, aktivitas absensi ternyata masih jalan terus.

Nah loh.

Dari situ akhirnya ketahuan kalau ada ribuan ASN yang diduga pakai aplikasi ilegal buat ngakalin presensi. Kepala BKPSDMD Brebes, Moh. Syamsul Haris, bilang aplikasi itu ditawarkan pihak luar atau peretas. Modusnya simpel tapi bikin geleng kepala. ASN cukup bayar sekitar Rp250 ribu setahun, lalu data kehadiran bisa tetap masuk walau orangnya nggak nongol di kantor.

Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, bilang temuan ini jadi bukti kalau ada praktik curang yang sudah berjalan cukup lama.

“Saat server resmi dimatikan, ternyata masih ada aktivitas absensi. Dari sana kami mengidentifikasi ribuan ASN yang menggunakan aplikasi ilegal tersebut,” jelas Paramitha.

Yang bikin makin ramai, mayoritas ASN yang terdeteksi justru berasal dari sektor pelayanan publik kayak tenaga kesehatan dan guru. Bahkan beberapa pejabat struktural juga ikut terseret dalam kasus ini.

Sekarang Pemkab Brebes mulai gercep. Mereka buka jalur hukum, audit forensik, pemeriksaan disiplin, sampai audit keuangan daerah terkait TPP alias Tambahan Penghasilan Pegawai.

Sekretaris Daerah Brebes, Tahroni, memastikan pengembang aplikasi ilegal itu sudah dilaporkan ke polisi. Sementara ASN yang terlibat bakal diperiksa berdasarkan PP Nomor 94 Tahun 2021 tentang disiplin ASN.

Bukan cuma itu, ASN yang terbukti nerima TPP secara nggak sah juga diwajibkan balikin uangnya ke negara. Bahkan, Bupati Paramitha terang-terangan bilang praktik manipulasi absensi ini udah masuk kategori korupsi. Soalnya ada pegawai yang tetap terima hak penuh, tapi kewajiban kerjanya malah diakalin.