Manusiasenayan.id – Kalau ada yang mikir semua anggota DPR langsung muncul di Senayan, kisah Supriyanto bisa jadi pengingat kalau perjalanan politik itu kadang mirip game: naik level pelan-pelan, kumpulin pengalaman dulu, baru sampai ke level nasional.

Politisi Fraksi Partai Gerindra ini bukan tipe yang baru kemarin sore terjun ke dunia politik. Sebelum duduk di Komisi V DPR RI, Supriyanto udah lebih dulu “ngaspal” di dunia legislatif daerah selama bertahun-tahun. Jadi, soal urusan pembangunan daerah, bisa dibilang dia udah lumayan kenyang pengalaman.

Lahir di Ponorogo, 16 Maret 1962, Supriyanto menghabiskan masa sekolahnya di kota kelahirannya. Mulai dari SD Bedhi Wetan, lanjut ke SMP Negeri II Ponorogo, kemudian SMA Negeri II jurusan IPS. Setelah itu, ia merantau ke Yogyakarta buat kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Fakultas Ekonomi, dan lulus pada 1987.

Bekal ilmu ekonomi itu kemudian jadi modal sebelum akhirnya serius menekuni dunia politik. Tahun 1999 jadi titik awal karier legislatifnya ketika dipercaya menjadi Anggota DPRD Kabupaten Ponorogo. Dari sinilah perjalanan panjangnya dimulai.

Lima tahun kemudian, kepercayaan masyarakat makin naik. Supriyanto didapuk menjadi Ketua DPRD Kabupaten Ponorogo periode 2004–2009. Jabatan ini bukan cuma soal memimpin rapat, tapi juga mengawal arah kebijakan daerah dan menjembatani aspirasi masyarakat dengan pemerintah.

Nggak berhenti di situ, kariernya naik lagi ke level provinsi. Pada 2009–2014, ia menjadi Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur. Pengalaman ini bikin wawasannya makin luas karena persoalan yang dihadapi bukan lagi satu kabupaten, tapi satu provinsi dengan kebutuhan pembangunan yang jauh lebih kompleks.

Yang menarik, perjalanan politik Supriyanto juga sempat melewati dua partai besar. Ia pernah menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan Ponorogo pada 2004–2009. Beberapa tahun kemudian, ia bergabung dengan Gerindra dan dipercaya menjadi Ketua DPC Partai Gerindra Ponorogo periode 2013–2015.

Kini, Supriyanto mengemban amanah sebagai Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra. Komisi ini dikenal sebagai “komisi pembangunan” karena mengurusi urusan jalan, jembatan, bendungan, transportasi, perumahan rakyat, sampai penanganan bencana. Singkatnya, banyak kebijakan yang dampaknya langsung bisa dirasakan masyarakat sehari-hari.

Kalau ditarik benang merahnya, perjalanan Supriyanto bukan soal lompat jabatan, tapi soal naik kelas lewat pengalaman. Dari ruang sidang DPRD kabupaten, lanjut ke DPRD provinsi, sampai akhirnya duduk di Senayan, semuanya dilalui secara bertahap.

Di tengah dinamika politik yang serba cepat, rekam jejak seperti ini menunjukkan kalau pengalaman panjang, kepemimpinan di tingkat daerah, dan pemahaman soal pembangunan tetap jadi bekal penting. Buat masyarakat di daerah pemilihannya, perjalanan Supriyanto menjadi bukti kalau memahami persoalan dari bawah bisa jadi modal besar saat ikut menentukan arah kebijakan di tingkat nasional.