Manusiasenayan.id – Siapa bilang sains cuma urusan laboratorium, rumus ribet, dan penelitian di balik tembok kampus? Nyatanya, inovasi anak bangsa punya banyak karya yang dekat banget dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari lilin berbahan minyak jelantah, produk kecantikan berbahan alami, sampai teknologi pengolahan sampah plastik. Semua ini bisa dilihat langsung di Booth Penemu, Pasar Wiwitan, SCBD, Jakarta Selatan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengajak masyarakat buat lebih mengenal dunia sains lewat karya nyata perguruan tinggi. Menurutnya, hasil penelitian kampus nggak seharusnya cuma jadi pajangan atau berakhir di laporan akademik, tetapi juga perlu diperkenalkan agar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Kemendiktisaintek bersama Tomy Winata dan Artha Graha Indonesia dalam gelaran The Local Market Pasar Wiwitan.
Saat berkunjung pada Sabtu (7/11/2026), Stella menjelaskan bahwa program ini melibatkan inovator dari berbagai universitas untuk membawa hasil riset mereka lebih dekat dengan publik.
Ia ingin masyarakat melihat bahwa sains itu dekat dengan kehidupan sehari-hari, bukan sesuatu yang eksklusif milik orang-orang kampus saja.
Ada enam perguruan tinggi yang ikut unjuk gigi dengan membawa produk dan teknologi andalannya.
Pertama, Universitas Indonesia (UI) memperkenalkan produk raw honey alias madu mentah dengan tambahan kelor, bunga telang, dan nanas. Produk ini diklaim memiliki kandungan zat antikanker.
Kedua, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) membawa empat inovasi teknologi. Salah satunya alat penghemat BBM multi-kumparan yang memanfaatkan medan elektromagnetik pada aliran bahan bakar sebelum masuk ke ruang pembakaran mesin.
Ketiga, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) memperkenalkan Selvique, brand kecantikan dan perawatan kulit yang menawarkan sabun mandi berbahan utama citronella. Produk ini punya aroma segar yang bikin pengalaman mandi makin menarik.
Keempat, Binus University membawa PediDERM, aplikasi dermatologi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk membantu diagnosis dan pengelolaan masalah kulit pada anak. Teknologi ini mendukung deteksi secara real-time dan terhubung dengan layanan spesialis dermatologi.
Kelima, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya punya inovasi yang nggak kalah menarik. Mereka mengolah rempah andaliman menjadi balsem dan minyak angin. Bahkan, limbah minyak jelantah juga disulap menjadi lilin wangi yang punya nilai guna.
Keenam, Universitas Trisakti memamerkan tujuh produk unggulan dari sekitar 100 inovasi yang telah dipatenkan. Salah satunya teknologi pengolahan sampah plastik menjadi plastic flakes yang bisa diolah kembali menjadi paving block hingga produk furnitur bernilai jual.
Nggak cuma soal pameran inovasi, Pasar Wiwitan juga mendapat dukungan dari seluruh unit usaha Artha Graha, Kementerian Ekonomi Kreatif, dan Kementerian Pariwisata.
Kolaborasi ini diharapkan bisa membuka peluang lebih luas bagi produk lokal, menggerakkan ekonomi kreatif, sekaligus memperkenalkan karya anak bangsa kepada masyarakat.
Lewat kegiatan ini, satu hal yang ingin ditunjukkan cukup jelas: inovasi kampus nggak boleh cuma jago di atas kertas. Hasil riset harus punya manfaat nyata, dikenal publik, dan kalau memungkinkan bisa dikembangkan menjadi produk yang punya nilai ekonomi.
Jadi, sains bukan cuma soal teori dan eksperimen. Kalau dikembangkan dengan serius, karya anak kampus juga bisa jadi solusi buat kehidupan sehari-hari.
