Manusiasenayan.id – AI sekarang memang serba bisa. Mau bikin tulisan? Bisa. Bikin gambar? Bisa. Bantu ngolah data? Tinggal kasih perintah.

Tapi di balik kecanggihan itu, ada satu hal yang ternyata nggak main-main: AI butuh energi dalam jumlah gede banget.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti) Stella Christie mengungkap betapa “rakusnya” AI dalam memakai energi. Ia menunjukkan data konsumsi listrik pusat data AI di Amerika Serikat yang angkanya sudah mencapai sekitar 155 terawatt-jam (TWh).

Kalau angka segitu masih susah dibayangin, Stella punya cara lain buat menjelaskannya. Konsumsi energi AI sekarang bisa dibandingkan dengan penggunaan listrik satu negara.

Menurut Stella, pada 2025 konsumsi energi AI kurang lebih setara dengan pemakaian listrik Latvia selama setahun. Lalu pada 2026, angkanya diperkirakan setara dengan Romania.

Belum selesai.

Pada 2027, konsumsi energi AI diperkirakan menyamai Czechia. Setahun setelahnya, skalanya bisa setara dengan Italia. Kemudian pada 2029, kebutuhan listrik AI diperkirakan sudah selevel dengan Inggris Raya.

Dan angkanya masih bisa terus naik.

Stella menyebut konsumsi listrik AI diproyeksikan mencapai 465 TWh pada 2030. Artinya, kebutuhan energinya bisa meningkat sekitar tiga kali lipat dibandingkan angka yang ia sampaikan untuk 2025.

Jadi, makin banyak orang dan perusahaan menggunakan AI, makin besar juga komputasi yang dibutuhkan. Ujung-ujungnya, pusat data harus bekerja lebih keras dan listrik yang dibutuhkan ikut membengkak.

Tapi ternyata bukan cuma listrik yang jadi masalah.

Air juga ikut terkuras.

Pusat data membutuhkan air untuk membantu sistem pendinginan. Stella menyebut penggunaan AI juga berkaitan dengan konsumsi air dalam jumlah besar. Ia bahkan mengatakan sekitar 1,2 juta orang setara kebutuhan air minumnya pernah digunakan untuk proses tersebut dalam setahun.

Dari sini, Stella menilai kebutuhan utama AI bukan cuma soal chip atau semikonduktor. Energi justru jadi salah satu kunci utama.

Nah, bagian ini yang menurut Stella menarik buat Indonesia.

Kenapa?

Karena Indonesia punya sumber energi yang cukup beragam. Ada energi surya, angin, panas bumi, sampai potensi hidrogen alami.

Stella menyebut Indonesia punya cadangan panas bumi terbesar kedua di dunia, meski potensinya belum sepenuhnya dimanfaatkan. Ia juga menyinggung temuan terkait potensi cadangan hidrogen alami Indonesia yang dinilai sangat besar.

Artinya, kebutuhan energi AI yang kelihatannya bikin pusing ternyata juga bisa membuka peluang baru buat Indonesia.

Kalau sumber energi terbarukan bisa dikembangkan dengan serius, Indonesia bukan cuma jadi pengguna AI. Indonesia juga berpeluang mengambil bagian dalam ekosistem industri AI dan data center.

Jadi, AI memang rakus energi. Tapi pertanyaannya sekarang bukan cuma, “AI bakal menghabiskan energi sebanyak apa?”

Yang nggak kalah penting: Indonesia mau jadi penonton atau ikut mengambil peluangnya?