Manusiasenayan.id – Program Magang Hub lagi jadi sorotan! Pasalnya, peserta program ini ternyata masuk dalam kategori penduduk bekerja menurut penjelasan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Kok bisa? Ternyata, mereka bukan cuma datang ke kantor buat belajar atau cari pengalaman, tetapi juga benar-benar bekerja dan mendapatkan gaji selama enam bulan.

Airlangga menjelaskan, peserta Magang Hub menjalani masa kerja selama enam bulan. Menariknya, setelah program selesai, sebagian peserta punya peluang untuk lanjut bekerja di tempat mereka menjalani magang. Jadi, program ini bukan cuma soal menambah pengalaman, tetapi juga bisa menjadi pintu masuk menuju pekerjaan tetap.

Menurut Airlangga, sekitar 40% peserta berpeluang direkrut oleh tempat mereka magang. Sementara sisanya bisa mencari kesempatan kerja di perusahaan atau tempat lain.

“Sesuai dengan kriteria, mereka akan bekerja selama 6 bulan. Sesudah 6 bulan sebagian 40% mereka kerja di tempat yang sama dan sisanya nanti mereka mencari pekerjaan yang berbeda,” kata Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (5/11/2026).

Nah, penjelasan ini juga berkaitan dengan cara Badan Pusat Statistik (BPS) menghitung jumlah penduduk bekerja di Indonesia. Sebelumnya, BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2026 berada di angka 4,75%. Angka ini turun 0,10 poin persentase dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 4,85%.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik (NAS) BPS, Edy Mahmud, menjelaskan bahwa secara konsep, peserta Magang Hub memang bisa masuk dalam kategori penduduk bekerja.

Alasannya, BPS punya kriteria tersendiri untuk menentukan seseorang sebagai pekerja. Seseorang bisa dikategorikan bekerja jika melakukan kegiatan untuk mendapatkan atau membantu memperoleh penghasilan dengan durasi minimal satu jam dalam seminggu.

Artinya, peserta Magang Hub yang bekerja dan menerima upah selama program berlangsung bisa ikut masuk dalam hitungan penduduk bekerja. Dengan begitu, program ini juga berpotensi membantu menekan angka pengangguran di Indonesia.

Sebagai gambaran, Magang Hub berhasil menyerap sekitar 46.000 peserta pada kelompok atau batch pertama yang dimulai Agustus 2026. Jumlah ini menjadi salah satu bagian dari upaya membuka kesempatan kerja sekaligus memberikan pengalaman profesional bagi para pesertanya.

Meski begitu, Edy mengingatkan bahwa seberapa besar pengaruh Magang Hub terhadap penurunan pengangguran tetap bergantung pada jumlah orang yang mengikuti program tersebut. Semakin banyak peserta yang terserap, semakin besar pula potensi dampaknya.

Ia juga menegaskan bahwa penyerapan tenaga kerja di Indonesia bukan cuma berasal dari Magang Hub. Sektor lain, seperti pertanian dan konsumsi, turut memberikan kontribusi terhadap bertambahnya jumlah pekerja.

“By konsep tentu Magang Hub itu akan mengurangi pengangguran, tapi seberapa besar mengurangi penganggurannya tentu kita lihat jumlah yang ikut dalam Magang Hub itu. Kalau semakin banyak tentu dampaknya juga semakin besar,” ujar Edy dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta Pusat, Kamis (5/11/2026).

Jadi, Magang Hub bukan sekadar program buat mengisi CV atau mencari pengalaman. Program ini juga punya potensi membuka jalan menuju pekerjaan sekaligus ikut mendorong penurunan angka pengangguran di Tanah Air.