Manusiasenayan.id – Di antara riuhnya wajah-wajah baru di Senayan, nama Agustina Mangande mungkin nggak selalu masuk headline. Tapi justru di situlah menariknya—dia bukan tipe politisi yang cari spotlight, melainkan yang pelan-pelan kerja tapi terasa.

Lahir di Toraja, 21 November 1974, Agustina tumbuh dari lingkungan yang kuat dengan nilai adat dan kebersamaan. Background ini kebawa banget ke gaya politiknya sekarang: kalem, dekat sama masyarakat, dan nggak ribet pencitraan. Buat dia, turun langsung itu bukan gimmick, tapi kebiasaan.

Kalau ditarik ke belakang, perjalanan pendidikannya cukup “lokal banget”, tapi justru itu yang bikin dia relate sama banyak orang di dapilnya. Ia mengawali pendidikan di SD Swasta Langda (1981–1987), lanjut ke SMP Katolik Pato Nonongan (1987–1990), dan kemudian SMAS Katolik Rantepao (1990–1993). Nggak ada embel-embel luar negeri atau kampus elite, tapi justru dari situ terbentuk karakter yang grounded dan paham realita daerah.

Masuk ke dunia politik, Agustina melangkah ke DPR RI periode 2024–2029 lewat Partai Golkar dari Dapil Sulawesi Selatan III. Di sini, dia berhasil mengamankan lebih dari 61 ribu suara—angka yang cukup solid di daerah yang persaingannya ketat. Ini nunjukin kalau basis dukungannya bukan kaleng-kaleng.

Menariknya lagi, meskipun dikenal sebagai istri kepala daerah, Agustina nggak cuma “nebeng nama”. Dia membangun citranya sendiri sebagai figur yang dekat dengan masyarakat. Lebih ke sosok “ibu” yang hadir, bukan sekadar elite yang datang pas kampanye doang.

Di DPR, dia duduk di Komisi II DPR RI, salah satu komisi yang ngurusin isu vital kayak pemerintahan dalam negeri, pertanahan, dan birokrasi. Nggak terlalu glamor memang, tapi justru di situlah banyak keputusan penting yang berdampak langsung ke masyarakat.

Soal aktivitas, Agustina juga bukan tipe yang cuma aktif di ruang rapat. Dia rutin turun ke lapangan saat reses, nyerap aspirasi, dan berusaha bawa hasil yang konkret. Mulai dari bantuan ke masyarakat sampai dukungan fasilitas publik—cara dia kerja lebih ke “langsung terasa” daripada sekadar wacana.

Menariknya, di profil resminya, data soal pekerjaan, organisasi, hingga penghargaan memang belum banyak tercatat. Tapi justru itu bikin narasinya beda: dia bukan dibangun dari deretan gelar atau jabatan panjang, tapi dari proses dan kedekatan dengan masyarakat.

Kalau dilihat dari gaya mainnya, Agustina ini tipe politisi yang nggak banyak noise. Nggak sibuk cari panggung, tapi tetap jalan. Buat anak tongkrongan, ini tipe yang mungkin jarang viral—tapi diam-diam kerjanya konsisten dan relevan.