ManusiaSenayan.id – Dalam peta politik Indonesia yang biasanya dikuasai “nama-nama lama”, kehadiran Almira Nabila Fauzi, perempuan muda kelahiran 7 Januari 1999 dari Lampung, terasa seperti angin segar. Di usia yang masih masuk kategori “Gen Z prime time”, ia resmi menjadi Anggota DPD RI periode 2024–2029, membawa misi yang lebih besar dari sekadar kursi: menghadirkan perspektif baru, berani, dan relevan bagi masyarakat Lampung.
Perjalanan Almira Nabila Fauzi bukan sekadar soal keberuntungan, tapi juga keberanian menembus ruang-ruang politik yang didominasi kaum senior. Ia tumbuh di keluarga yang akrab dengan dinamika pemerintahan — ayahnya, Fauzi, mantan Wakil Bupati Pringsewu; ibunya, Rita Irviani, juga aktif di dunia publik. Lingkungan ini menanamkan satu hal: politik adalah ruang pengabdian, bukan ketakutan.
Gen Z yang Tidak Hanya Ribut di Sosmed
Banyak anak muda peduli isu publik, tapi tidak semuanya mau terjun langsung. Almira justru mengambil jalur yang lebih menantang ketika mencalonkan diri via DPD — jalur independen yang menuntut kerja nyata, bukan branding semata.
Latar pendidikannya di Monash College Australia dan Monash University Malaysia (Bachelor of Business & Commerce) membuat visinya jauh dari sekadar kampanye normatif. Ia bicara angka, bicara struktur ekonomi, bicara cara menaikkan daya saing UMKM, dan bicara bagaimana generasi muda harus menguasai future skills seperti AI. Ini bukan politisi yang datang dengan jargon-jargon kosong — ini anak muda yang paham betul konteks zaman.
Dalam beberapa kunjungan kerja dan kegiatan edukasi publik, Almira bahkan membuka pelatihan AI gratis untuk masyarakat Lampung, mengajak mahasiswa, guru, dan ASN belajar dasar-dasar kecerdasan buatan. Untuk politisi muda, ini langkah yang jarang — lebih teknis, lebih visioner, dan lebih relevan bagi masa depan.
Perempuan Muda di Arena yang Tidak Selalu Ramah
Menembus Senayan bagi laki-laki saja sulit—apalagi perempuan muda di usia 20-an. Di situ tantangan Almira berada. Politik Indonesia masih penuh stereotip:
• “anak muda kurang pengalaman,”
• “perempuan emosional,”
• “masih terlalu dini bicara kebijakan.”
Tapi justru di titik inilah Almira menunjukkan ketegasan identitasnya. Ia memilih membuktikan kualitas dengan kerja nyata. Misalnya, ia fokus pada pengembangan UMKM, akses pendidikan digital, dan pemberdayaan komunitas lokal — isu yang sering luput dari radar politisi senior.
Dengan perolehan 404 ribu suara di Pemilu 2024, ia membuktikan bahwa masyarakat Lampung tidak hanya siap memberi kesempatan pada anak muda, tetapi juga percaya bahwa perempuan muda bisa menjadi wajah perubahan.
“Pioneer Perubahan” yang Tidak Asal Bicara
Almira sering berharap menjadi bagian dari “pioneer perubahan.” Tapi istilah ini bukan sekadar tagline. Ia aktif mendorong masyarakat untuk terlibat dalam proses pembangunan, termasuk melalui program seperti DPD Award, yang memberi ruang apresiasi pada tokoh lokal yang bekerja nyata. Ia tidak hanya datang sebagai simbol anak muda di politik, tapi juga pembawa agenda partisipasi publik.
Ia juga punya gaya komunikasi khas anak muda: hangat, rendah hati, namun lugas. Tidak menggurui, tapi mengajak. Tidak memaksakan idealisme, tapi menghubungkan ide dengan kebutuhan masyarakat.
Di Tengah Tantangan, Ada Harapan Baru
Menjadi perempuan muda di politik berarti masuk ke arena yang belum sepenuhnya setara. Ada tekanan tinggi, ekspektasi besar, dan sorotan ekstrem. Tapi Almira menunjukkan bahwa generasi muda dan perempuan bukan sekadar “pelengkap”, melainkan aktor penting perubahan.
Dengan kombinasi pendidikan global, nilai-nilai lokal, dan keberanian berkomunikasi dengan gaya publik muda, Almira membuka jalan bagi banyak perempuan lainnya untuk berani bermimpi dan melampaui batas sosial.
Ia mungkin masih di awal kariernya sebagai senator, tapi langkah-langkahnya sudah mengirim pesan:
perubahan bukan soal usia, tapi soal kemauan untuk bergerak.
