Manusiasenayan.id – Generasi muda sering menganggap pelajaran Pancasila identik dengan hafalan yang bikin ngantuk. Padahal, menurut Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, nilai-nilai Pancasila seharusnya bukan cuma diingat saat ujian, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Lewat buku “Komik Pancasila untuk Pemula”, Willy mencoba menawarkan cara baru belajar Pancasila yang lebih santai, dekat dengan keseharian, dan pastinya lebih mudah dipahami. Buku tersebut resmi diluncurkan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, sebagai upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih relevan bagi generasi muda.
Menurut Willy, kalau Pancasila hanya diajarkan lewat metode hafalan, nilainya bisa kehilangan makna. Ia ingin Pancasila hadir sebagai cara berpikir sekaligus cara hidup, bukan sekadar materi pelajaran yang selesai setelah jam sekolah berakhir.
Komik ini menjadi buku kedua yang ia gagas setelah sebelumnya menerbitkan Pancasila di Rumahku. Jika buku pertama lahir dari berbagai kegiatan literasi seperti lomba podcast dan video pendek, kali ini Willy memilih media visual karena percaya gambar mampu menarik perhatian pembaca sejak halaman pertama.
Proses penyusunan buku ini pun bukan pekerjaan instan. Hampir dua tahun, Willy bersama ilustrator, tim diskusi, hingga anak-anak sebagai pembaca awal terus menyempurnakan cerita dan visual agar alurnya mudah dipahami. Baginya, komik bukan sekadar hiburan, tetapi juga bisa menjadi media edukasi yang efektif.
Inspirasi tersebut datang dari kebiasaannya membacakan komik edukasi kepada anak-anak. Dari situ ia melihat bahwa ilustrasi mampu menjadi pintu masuk sebelum pembaca memahami pesan yang lebih dalam.
Menariknya, komik ini tidak hanya membahas teori Pancasila. Willy justru mengajak pembaca melihat bagaimana nilai-nilai tersebut hidup lewat persoalan sehari-hari, mulai dari kehidupan di sekolah, pertemanan, hingga cara menghadapi perbedaan. Pesan yang ingin disampaikan sederhana, yaitu menghargai, bekerja sama, dan tidak mudah menyebarkan kebencian.
Willy juga mengingatkan bahwa Pancasila lahir dari proses dialog dan perdebatan, bukan dari dogma. Karena itu, ia berharap anak muda berani mendiskusikan relevansi Pancasila dalam menghadapi isu-isu kekinian seperti Artificial Intelligence (AI), transhumanisme, hingga transformasi digital.
Menurutnya, semakin sering Pancasila dibicarakan secara kritis, semakin besar peluang nilai-nilainya tetap hidup di tengah perubahan zaman. Ia bahkan tengah menyiapkan proyek ketiga berupa serial cerita bergambar yang mengulas sejarah serta makna lambang di setiap sila Pancasila.
Dukungan juga datang dari Wakil Ketua BPIP, Rima Agristina. Ia menilai komik ini menjadi angin segar dalam upaya membumikan Pancasila. Menurutnya, menghadirkan ideologi bangsa kepada masyarakat membutuhkan kolaborasi dan pendekatan kreatif, sehingga pesan Pancasila bisa diterima lebih luas oleh generasi masa kini.
