Manusiasenayan.id – Kalau ngomongin tokoh senior dari Lampung yang kariernya komplet dari daerah sampai nasional, nama Dr. H. Bustami Zainudin, S.Pd., M.H. jelas masuk daftar utama. Sekarang, ia duduk sebagai Anggota DPD RI periode 2024–2029 dengan nomor anggota B-32, mewakili Dapil Lampung. Statusnya jelas: Senator RI, wakil daerah yang tugasnya ngawal kepentingan provinsi di level pusat.

Lahir di Lampung, Bustami tumbuh dan besar dengan latar belakang pendidikan yang nggak main-main. Ia mengawali pendidikan formal dari MIN (lulus 1982), lanjut sekolah negeri (1985), lalu SMA jurusan IPA (1988). Pendidikan tingginya ditempuh di Universitas Bandar Lampung (MIPA, 1993) sebelum akhirnya memperdalam ilmu hukum di kampus yang sama dan lulus 2013. Ia juga tercatat menempuh studi di Mercu Buana jurusan MSDM, memperkuat kapasitasnya di bidang manajemen sumber daya manusia. Kombinasi sains, hukum, dan manajemen ini bikin perspektifnya luas—nggak cuma normatif, tapi juga teknis dan strategis.

Karier organisasinya sudah terasah sejak muda. Tahun 1991, ia dipercaya jadi Sekretaris KNPI, wadah kepemudaan yang jadi “sekolah politik” banyak tokoh nasional. Pengalaman itu terus berkembang sampai akhirnya ia memimpin sebagai Ketua PDI Perjuangan (2010) di daerahnya. Jiwa kepemimpinan dan jaringan politiknya kebentuk kuat dari fase ini.

Tapi perjalanan Bustami nggak berhenti di struktur partai. Ia turun langsung ke eksekutif daerah. Tahun 2005, ia menjabat Wakil Bupati, lalu naik level jadi Bupati pada 2010. Dari sini, ia benar-benar paham medan: ngurus birokrasi, anggaran, pembangunan, sampai dinamika sosial masyarakat. Pengalaman sebagai kepala daerah ini jadi modal emas saat melangkah ke Senayan.

Sekarang di DPD RI, Bustami membawa perspektif komplet: paham regulasi, ngerti manajemen pemerintahan, dan punya pengalaman eksekusi kebijakan di lapangan. Fokusnya tetap konsisten—mengawal kepentingan Lampung, memperjuangkan pembangunan daerah, dan memastikan hubungan pusat-daerah berjalan adil.

Gaya politiknya cenderung tenang tapi terukur. Nggak banyak gimmick, lebih banyak kerja berbasis pengalaman. Buat Bustami, jabatan itu bukan sekadar simbol, tapi tanggung jawab.

Singkatnya, dari aktivis muda KNPI, ketua partai, wakil bupati, bupati, sampai kini jadi senator—jalanan kariernya nggak instan. Dan di politik, rekam jejak kayak gini jelas bukan cerita biasa.