ManusiaSenayan.id – Kalau kamu pikir politik itu cuma tentang rapat serius dan janji-janji kampanye yang basi, coba kenalan sama Casytha A. Kathmandu — sosok muda dari Jawa Tengah yang lagi jadi sorotan di Senayan. Gaya bicaranya tenang, tutur katanya halus, tapi isi pikirannya tajam dan dalam. Casytha bukan politisi yang kebetulan lahir di keluarga politik, dia benar-benar tumbuh dari kultur perjuangan yang kuat. Bapaknya adalah Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul, salah satu politisi kawakan PDIP yang terkenal dengan istilah “Politisi Korea.” Tapi tenang dulu, “Korea” di sini bukan soal drakor atau K-pop, melainkan filosofi hidup wong cilik yang pengen melenting ke atas — keluar dari jurang kemiskinan dengan semangat kerja keras yang eksponensial.
Casytha tumbuh dalam lingkungan itu: disiplin, berani, dan tahan banting. Lahir di Surakarta pada 28 Desember 1987, ia menempuh pendidikan di Yogyakarta — mulai dari SD Serayu II, SMPN 5, hingga SMAN 3 Yogyakarta. Semangat belajarnya nggak main-main. Ia kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), jurusan Akuntansi, lulus tahun 2008, lalu lanjut ke University of Melbourne dan meraih Master of Finance pada 2015. Dari kecil, Casytha bukan tipe anak yang cuma ikut arus. Ia aktif di organisasi kampus, dari Bendahara Ikatan Mahasiswa Akuntansi sampai anggota GMNI UGM, menunjukkan kalau leadership-nya bukan instan, tapi tumbuh dari pengalaman.
Sebelum nyemplung ke dunia politik, Casytha udah punya karier profesional yang solid. Ia sempat bekerja di PwC Indonesia, salah satu firma audit top dunia, lalu di Bank Indonesia sebagai Asisten Manajer. Selain itu, dia juga pernah duduk di Komite Audit dan Pemantau Risiko Bank Jateng serta mengajar di Universitas Diponegoro. Latar belakang ekonomi dan keuangan bikin Casytha paham betul gimana cara kerja sistem ekonomi dari dalam. Jadi ketika akhirnya ia maju sebagai calon anggota DPD RI pada Pemilu 2019, dia datang dengan bekal profesionalitas dan kapasitas, bukan cuma nama besar keluarga.
Menariknya, Casytha maju bukan lewat partai seperti sang ayah. Keputusan itu menunjukkan kalau dia berdiri di atas kaki sendiri. Hasilnya pun luar biasa: terpilih sebagai anggota DPD RI dari Jawa Tengah dengan perolehan suara hampir 3 juta, mengalahkan banyak nama besar. Di Senayan, Casytha fokus pada isu pemberdayaan perempuan dan pemuda, penguatan UMKM, serta penanganan stunting. Ia juga dikenal rajin turun ke daerah, berdialog langsung dengan masyarakat, dan memastikan kebijakan tidak berhenti di atas kertas.
Filosofi “Korea” dari sang ayah juga masih jadi semangat utama. Kalau Bambang Pacul mencangkul tanah politik dengan gaya ceplas-ceplos dan blak-blakan, maka Casytha melanjutkan tradisi itu dengan cara yang lebih lembut dan strategis. Ia sering bilang, “Melenting itu bukan cuma soal naik derajat, tapi ngajak orang lain ikut naik bareng.” Makanya, selain di DPD, dia juga aktif di berbagai organisasi seperti Kadin Jawa Tengah, KNPI Jateng, dan Kaukus Perempuan Parlemen RI.
Banyak yang bilang Casytha adalah versi halus tapi berisi dari Bambang Pacul. Dua generasi, dua gaya, tapi satu napas perjuangan. Kalau sang ayah mencangkul, maka Casytha menanam. Ia menunjukkan bahwa darah “Politisi Korea” nggak cuma tentang kerja keras, tapi juga tentang cara berpikir maju dan berani tampil beda. Dalam dirinya, semangat wong cilik bertemu dengan visi global.
Casytha A. Kathmandu adalah contoh nyata bahwa politik bisa naik kelas. Ia bukan hanya melanjutkan jejak sang ayah, tapi juga memodernisasi makna “Politisi Korea” — dari gaya keras ke diplomasi lembut, dari orasi lantang ke aksi nyata. Dengan latar pendidikan internasional, pengalaman profesional, dan empati sosial yang kuat, Casytha menjembatani masa lalu dan masa depan. Ia membuktikan bahwa politik masa depan Indonesia nggak harus gaduh, asal jujur, kerja nyata, dan punya hati untuk rakyat.
