ManusiaSenayan.id Di tengah politik yang sering dibilang “isinya itu-itu aja”, muncul satu nama dari Kepulauan Bangka Belitung yang vibes-nya beda: Dinda Rembulan Emron. Umurnya masih dua puluh sembilan, tapi kursinya sudah di Senayan sebagai anggota DPD RI periode 2024–2029. Dari negeri timah, sekarang dia jadi salah satu suara resmi Babel di pusat. Buat banyak anak muda, sosok kayak Dinda ini nunjukin kalau politik nggak melulu milik generasi yang jauh di atas kita.

Latar Keluarga Pejuang Babel

Dinda tumbuh di keluarga yang udah duluan akrab sama dunia politik dan perjuangan daerah. Ayahnya, Emron Pangkapi, bukan cuma politisi, tapi juga mantan wartawan dan salah satu tokoh penting di balik lahirnya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Beliau pernah jadi Ketua DPRD Babel pertama, jadi dari kecil Dinda sudah sering lihat gimana urusan publik itu diurus: mulai dari rapat, diskusi panjang, sampai turun ketemu warga.

Bisa aja Dinda memilih jalan aman, jadi “anak pejabat” yang cukup nonton dari belakang layar. Tapi yang dia pilih justru kebalikannya. Ia masuk gelanggang sendiri, pakai namanya sendiri, dan siap diuji di kotak suara. Di titik ini, kelihatan kalau ia nggak cuma numpang nama keluarga, tapi memang pengin ambil peran.

Jejak Pendidikan: Dari Pesantren ke Kampus Global

Kalau lihat jalur pendidikan Dinda, kelihatan banget kombinasi antara akar lokal, nuansa religius, dan pengalaman internasional. Masa kecilnya lewat di sekolah dasar seperti SD Muhammadiyah Pangkalpinang sebelum pindah ke sekolah di Bekasi. Masuk SMP, ia mondok di Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta, yang nuansanya kuat banget ke pendidikan agama dan pembentukan karakter.

Setelah itu, ia melanjutkan ke International Islamic High School, masih di Jakarta, yang bikin dia terbiasa dengan lingkungan yang lebih global. Lulus SMA, Dinda terbang ke Singapura. Di sana, ia mengambil Diploma in Communication Management di Kaplan, lalu lanjut meraih Bachelor of Arts in Business with International Management dari Northumbria University (program Singapura). Pulang ke Indonesia, ia nggak berhenti belajar begitu saja. Ia lanjut S2 Ilmu Politik di Universitas Indonesia, sejalan dengan jalur kariernya di dunia politik.

Di luar kelas, Dinda aktif di komunitas pelajar Indonesia di Singapura dan sudah ngerasain kerja di dunia profesional. Ia pernah masuk industri penerbangan lewat PT Sriwijaya Air dan juga sempat jadi sekretaris direktur di perusahaan keluarga di Pangkalpinang. Dari pesantren sampai kampus luar negeri, dari organisasi pelajar sampai kantor beneran, pengalamannya bikin cara pandangnya ke Indonesia – dan ke Babel – jadi jauh lebih luas.

Melangkah ke Senayan

Nama Dinda mulai sering muncul di media lokal waktu ia maju sebagai calon anggota DPD RI dari Bangka Belitung untuk Pemilu 2024. Ia datang ke KPU sebagai calon perseorangan, bawa dukungan masyarakat sesuai syarat. Saat itu, media banyak meng-highlight dua hal: dia perempuan, dan dia masih muda.

Di tengah deretan calon lain yang didominasi laki-laki dan wajah-wajah senior, kehadiran Dinda bikin komposisi jadi lebih berwarna. Ia datang dengan narasi keterwakilan perempuan, generasi muda, dan mimpi tentang Babel yang maju tapi tetap adil. Bukan sekadar numpang lewat, targetnya jelas: masuk empat besar peraih suara DPD dari Babel.

Hasilnya? Ia beneran tembus ke empat besar. Dari ribuan suara yang dikumpulkan di TPS-TPS, nama Dinda berhasil mengunci satu kursi di DPD RI. Di usia yang masih di ujung dua puluh, ia resmi dilantik sebagai senator. Buat ukuran politik nasional, itu muda banget. Dan di situ, pelan-pelan ia mulai membangun citra sebagai “senator muda dari negeri timah”.

Mengawal Negeri Timah di Komite IV

Begitu masuk DPD, Dinda ditempatkan di Komite IV. Ini komite yang urusannya serius: APBN, pajak, hubungan keuangan pusat dan daerah, sampai kebijakan terkait UMKM. Kedengarannya teknis, tapi justru di situ letak pengaruh nyata ke kehidupan sehari-hari warga di daerah.

Sebagai wakil dari Bangka Belitung, Dinda bawa “PR besar” dari rumah: Babel sebagai negeri timah. Dalam berbagai rapat dan pembahasan, ia menyoroti soal keadilan fiskal buat daerah. Waktu ada wacana pemotongan Transfer ke Daerah, misalnya, ia mengingatkan bahwa di daerah seperti Babel, uang dari pusat itu bukan sekadar angka di kertas. Itu yang dipakai buat bangun sekolah, jalan, layanan kesehatan, dan program-program yang langsung dirasakan warga.

Isu lain yang jadi ciri khas suaranya adalah hilirisasi timah. Pemerintah pusat lagi gencar mendorong hilirisasi, tapi Dinda nggak mau Babel cuma jadi latar belakang. Ia menegaskan bahwa sebagai daerah penghasil timah, Bangka Belitung harus dapat manfaat nyata, bukan cuma menyaksikan bahan mentah diambil lalu nilai tambahnya lari ke tempat lain. Dalam kacamata Dinda, hilirisasi timah baru bisa dibilang berhasil kalau warga di daerah penghasil juga merasakan perubahan: lebih banyak lapangan kerja, ekonomi yang naik kelas, dan lingkungan yang nggak makin hancur.

Dekat dengan Warga di Luar Ruang Sidang

Kerja seorang senator memang banyak di ruang sidang dan rapat-rapat resmi, tapi Dinda mencoba memastikan dirinya nggak “menghilang” dari warga. Ia beberapa kali muncul di kegiatan sosial dan kunjungan langsung ke masyarakat. Saat peringatan ulang tahun DPD RI, misalnya, ia terlibat dalam gerakan donor darah yang mengajak masyarakat Babel ikut berpartisipasi. Di kesempatan lain, ia datang ke rumah duka seorang anak korban dugaan bullying, memberikan dukungan moral dan menyuarakan pentingnya perhatian serius terhadap kekerasan pada anak.

Hal-hal seperti ini mungkin nggak seviral pidato di ruang sidang, tapi justru di situlah terasa apakah seorang pejabat publik mau turun ke level yang paling manusiawi: hadir, mendengar, dan berdiri di sisi orang-orang yang sedang kesulitan.

Generasi Muda, Politik, dan PR Besar Seorang Senator

Buat banyak anak muda, politik itu sering kelihatan toxic: penuh drama, janji, dan debat yang nggak berujung. Sosok seperti Dinda nggak otomatis bikin politik jadi estetik dan menyenangkan, tapi setidaknya ngasih bukti kalau anak muda dan perempuan juga bisa sampai ke ruang pengambilan keputusan tertinggi.

Sebagai senator muda dari negeri timah, Dinda sudah pegang “tiket” yang nggak dimiliki semua orang: akses ke lembaga negara, hak bicara di forum-forum penting, dan legitimasi dari suara rakyat. Tapi tiket itu datang dengan PR besar. Hilirisasi timah yang adil, keuangan daerah yang kuat, UMKM dan ekonomi lokal yang lebih berdaya, sampai isu sosial di akar rumput, semuanya nunggu untuk dijawab dengan kerja nyata, bukan cuma tagline.

Bagi Gen Z di Bangka Belitung dan Indonesia, Dinda bisa jadi dua hal sekaligus. Di satu sisi, ia contoh bahwa jalur ke politik terbuka buat generasi muda. Di sisi lain, ia juga pejabat publik yang sah-sah saja dikritik, ditagih janji, dan dipantau kinerjanya. Justru di situ poin pentingnya: politik bukan lagi sesuatu yang jauh dan “punya orang lain”, tapi ruang yang harus terus diawasi dan diisi oleh generasi yang bakal hidup paling lama dengan dampak keputusan-keputusan hari ini.

Dan di tengah semua itu, satu hal yang paling krusial adalah konsistensi. Apakah “Senator muda dari negeri timah” ini akan benar-benar jadi suara lantang Babel di Senayan, atau cuma jadi nama baru di daftar panjang politisi yang datang dan pergi? Jawabannya bakal pelan-pelan kelihatan dalam lima tahun masa jabatannya. Tugas kita sebagai anak muda: jangan cuma nonton, tapi ikut mengawal.