Manusiasenayan.id – Di tengah hiruk-pikuk Senayan yang kadang terasa “jauh dari rakyat”, sosok Fauzan Khalid justru punya cerita yang cukup membumi. Bukan tipe politisi instan, tapi lebih ke “produk proses panjang” yang ditempa dari kampung sampai pusat kekuasaan.
Perjalanan Fauzan dimulai dari Lombok Barat. Ia mengenyam pendidikan dari SDN 1 Sandik, lanjut ke NW Pancor, lalu MA Ishlahuddin Kediri. Dari sini, arah hidupnya mulai kebentuk—bukan cuma soal akademik, tapi juga nilai sosial dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar.
Langkahnya makin serius saat kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (Bahasa dan Sastra Arab), lalu lanjut ke UGM Yogyakarta jurusan Ilmu Politik. Kombinasi ini bikin perspektifnya cukup unik: ada sentuhan humaniora, tapi juga tajam di analisis politik.
Sebelum masuk ke dunia kekuasaan, Fauzan lebih dulu “ngulik” dunia kampus. Ia pernah jadi dosen di FISIP Universitas Muhammadiyah Mataram dan Fakultas Hukum Universitas 45 Mataram. Dari sini, gaya komunikasinya kebentuk—nggak terlalu kaku, tapi tetap berbobot.
Karier publiknya mulai serius saat masuk ke KPU NTB. Tahun 2003–2008 ia jadi anggota, lalu naik jadi Ketua KPU Provinsi NTB (2008–2013). Di fase ini, Fauzan paham banget bagaimana demokrasi dijalankan dari dalam—bukan sekadar teori.
Masuk ke eksekutif, langkahnya makin kencang. Ia dipercaya jadi Wakil Bupati Lombok Barat (2014–2015), lalu sempat jadi PLT Bupati. Puncaknya, Fauzan menjabat Bupati Lombok Barat dua periode (2016–2024). Ini bukan waktu yang sebentar. Di sini, dia benar-benar “turun tangan”—ngurus birokrasi, pelayanan publik, sampai pembangunan daerah yang seringkali nggak semudah di atas kertas.
Fast forward ke hari ini, Fauzan duduk di DPR RI sebagai anggota Komisi II dari Fraksi NasDem. Komisi yang dikenal “berat” karena ngurusin dalam negeri, ASN, hingga pertanahan. Tapi dengan track record-nya, posisi ini terasa cukup “kena”.
Di parlemen, Fauzan cenderung fokus ke isu-isu yang dekat dengan masyarakat tapi sering ribet secara sistem—kayak layanan pertanahan, birokrasi, dan ketimpangan daerah. Gaya mainnya nggak terlalu banyak gimmick, lebih ke kerja yang berbasis pengalaman lapangan.
Kalau ditarik garis besar, Fauzan Khalid adalah tipikal politisi yang ngerti alur dari hulu ke hilir: dari akademisi, penyelenggara pemilu, kepala daerah, sampai sekarang di legislatif.
Dan di tengah sistem yang sering bikin orang geleng-geleng, figur seperti ini jadi menarik—karena dia nggak cuma paham teori, tapi juga pernah ada di posisi yang harus mengambil keputusan nyata.
