Manusiasenayan.id – Di Senayan, ada satu nama dari Sulawesi Tengah yang vibe-nya bukan sekadar “datang, duduk, lalu hilang dari radar.” Namanya Febriyanthi Hongkiriwang, S.Si., Apt.—perempuan kelahiran Luwuk, 09 Februari 1984, yang kini duduk sebagai anggota DPD RI mewakili dapil Sulawesi Tengah periode 2024–2029.

Pada Pemilu Legislatif 2024, Febriyanthi meraih 183.470 suara, angka yang membuatnya masuk sebagai salah satu senator terpilih dari Sulteng. Data rekapitulasi KPU Sulteng yang dilaporkan ANTARA mencatat Febriyanthi berada di jajaran peraih suara signifikan untuk kursi DPD RI dapil Sulawesi Tengah.

Yang bikin profilnya menarik, Febriyanthi bukan cuma datang dari panggung politik. Ia juga punya latar profesional sebagai apoteker. Jadi, ketika bicara soal kesehatan publik, pelayanan masyarakat, atau isu perempuan dan keluarga, ia tidak datang dengan modal hafalan jargon doang. Ada basis keilmuan, ada pengalaman lapangan, dan ada rekam aktivitas sosial yang sudah ia jalani sebelum masuk Senayan.

Di Morowali Utara, Febriyanthi pernah memegang sejumlah posisi penting. Ia pernah menjadi Ketua Dekranasda Kabupaten Morowali Utara, Ketua Palang Merah Indonesia Kabupaten Morowali Utara, serta Ketua KORMI Kabupaten Morowali Utara. Tiga ruang itu memberi gambaran cukup jelas: ia bergerak di wilayah pemberdayaan ekonomi kreatif, kemanusiaan, dan olahraga masyarakat.

Sebagai perempuan beragama Kristen dari Luwuk, Febriyanthi membawa identitas yang dekat dengan keberagaman Sulawesi Tengah. Bukan identitas yang dipajang sebagai gimmick, tapi sebagai bagian dari narasi besar: bahwa daerah butuh wakil yang paham denyut masyarakatnya sendiri.

Febriyanthi resmi menjadi bagian dari DPD RI setelah pelantikan anggota DPD periode 2024–2029 pada 1 Oktober 2024 di kompleks parlemen Senayan. Media lokal Posonews mencatat ia langsung mengikuti agenda dan koordinasi awal setelah pelantikan, termasuk dengan senator senior dari Sulawesi Tengah.

Kini, pekerjaan rumahnya jelas: membuktikan bahwa suara Sulteng tidak berhenti di bilik TPS. Sebab 183 ribu lebih suara itu bukan sekadar angka elektoral. Itu adalah titipan harapan dari masyarakat yang ingin isu kesehatan, perempuan, ekonomi lokal, kemanusiaan, dan anak muda Sulteng terdengar lebih keras di pusat.