Manusiasenayan.id – Wah, polemik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ternyata masih bikin anak muda gerah. Anggota DPR RI Fraksi PKB, Eka Widodo alias Edo, membocorkan keresahan sejumlah Generasi Z (Gen Z) yang terang-terangan menyuarakan kekecewaan terhadap Gibran. Bahkan, mereka sampai meminta agar orang nomor dua di Indonesia itu dimakzulkan.
Cerita ini muncul saat Edo menjalani kegiatan reses di daerah pemilihannya, Jawa Tengah IX. Bukannya cuma datang untuk menyapa, sejumlah anak muda justru langsung mengerumuninya buat menyampaikan unek-unek soal berbagai persoalan hukum yang menyeret nama Gibran.
Edo mengaku cukup terkejut dengan besarnya kekecewaan yang disampaikan anak-anak muda tersebut. Menurutnya, mereka merasa persoalan yang terjadi bukan sekadar polemik politik biasa, tetapi juga menyangkut kepercayaan terhadap konstitusi dan demokrasi.
“Ketika saya reses di Dapil Jawa Tengah IX, saya dikerumuni anak-anak Gen Z. Mereka menyampaikan kekecewaan yang sangat mendalam terhadap kasus Gibran. Mereka merasa konstitusi telah dirusak dan hati anak-anak muda terluka. Ini murni suara anak-anak Gen Z yang disampaikan kepada saya ketika reses,” ujar Edo.
Salah satu hal yang bikin Gen Z kecewa adalah anggapan bahwa jalan Gibran menuju kursi wakil presiden terbuka karena statusnya sebagai putra Presiden Joko Widodo saat itu.
Mereka menyoroti Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 90/PUU-XXI/2023 yang mengubah aturan batas usia calon presiden dan wakil presiden. Putusan tersebut kemudian membuka jalan bagi Gibran untuk maju dalam Pilpres 2024.
Menurut Edo, situasi ini memunculkan persepsi kurang menyenangkan di kalangan anak muda. Seolah-olah, kalau mau jadi pemimpin harus punya privilege alias berasal dari keluarga pejabat. Sementara anak-anak dari keluarga biasa justru merasa kesempatan mereka semakin sempit.
“Anak-anak muda merasa seolah-olah untuk menjadi pemimpin harus menjadi anak presiden atau anak pejabat. Kalau bukan anak pejabat, mereka merasa tidak punya kesempatan. Padahal, demokrasi seharusnya memberikan ruang yang sama bagi setiap warga negara,” tegasnya.
Belum selesai sampai di situ, Gen Z juga menyinggung janji penciptaan 19 juta lapangan kerja. Edo menyebut anak muda justru masih menghadapi persoalan pengangguran. Ia mengutip angka 67 persen Gen Z menganggur yang diklaim merujuk pada data BPS 2026.
Kondisi tersebut membuat sebagian anak muda merasa harapan mereka terhadap kepemimpinan Gibran jauh dari kenyataan. Bahkan, muncul anggapan bahwa janji yang pernah disampaikan justru berujung mengecewakan.
“Anak-anak Gen Z menyampaikan bahwa mereka ingin Gibran dimakzulkan. Mereka merasa kecewa karena harapan terhadap kepemimpinan anak muda justru tercoreng oleh persoalan ini,” ungkap Edo.
Edo juga membeberkan tiga persoalan hukum dan konstitusional yang menjadi dasar kritiknya. Pertama, polemik Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 soal perubahan syarat usia capres dan cawapres.
Kedua, persoalan ijazah Gibran yang menurut penafsiran Edo berkaitan dengan pertimbangan dalam putusan MK. Ketiga, putusan Mahkamah Agung (MA) mengenai surat keterangan penyetaraan pendidikan Gibran yang dinyatakan tidak sah dan batal demi hukum.
Melihat berbagai keresahan tersebut, Edo meminta suara anak muda jangan cuma didengar lalu dilupakan. Ia mendorong agar aspirasi masyarakat, terutama tuntutan pemakzulan Gibran, mendapat perhatian serius.
Buat Edo, suara Gen Z juga bagian dari suara demokrasi yang wajib diperhitungkan. Apalagi, anak muda bukan cuma butuh janji, tetapi juga ingin melihat keadilan dan kesempatan yang setara di negeri sendiri.
