ManusiaSenayan.id – Biasanya kalau denger kata “proyek pemerintah”, yang kebayang tuh tumpukan batu bata, banner gede, dan tulisan “Mohon Maaf, Sedang Dalam Pembangunan” yang entah sampai kapan. Tapi kali ini beda, gengs! Anggota DPR RI Saadiah Uluputty turun langsung ke Desa Labetawi, Kota Tual, Maluku, buat ngecek progres Kampung Nelayan Merah Putih. Dan ternyata, ini bukan proyek yang asal tempel nama merah putih doang—tapi beneran ngangkat harapan warga pesisir!
Saadiah yang dulu sempat di Komisi IV DPR RI (tim yang ngurus laut dan ikan-ikan kece) cerita kalau program ini udah ia perjuangkan dari lama banget.
“Aspirasi ini saya perjuangkan ketika masih di Komisi IV. Waktu itu saya ingin agar Maluku, dengan kekayaan lautnya, tidak hanya dikenal sebagai penghasil ikan, tapi juga sebagai pusat pengolahan hasil laut. Dengan begitu, nilai ekonomi tidak hanya berhenti di laut, tapi kembali ke masyarakat,” katanya.
Alias: jangan cuma jual ikan mentah, tapi juga olah biar bisa jadi duit lebih banyak. Nggak cuma nelayan yang senyum, dompet juga ikutan bahagia.
Dalam kunjungan itu, Saadiah datang bareng Wakil Wali Kota Tual Amri Rumra, tim dari PT Adhi Karya, dan pejabat lokal. Yang keren, pekerja proyeknya tuh warga lokal sendiri—jadi bukan cuma “proyek datang, warga nonton”. Di sini, warga ikut kerja, ikut bangga juga.
“Tual dan Maluku Tenggara punya potensi luar biasa dalam sektor perikanan tangkap maupun budidaya. Melalui proyek seperti ini, kita ingin agar hasil laut tidak hanya dijual mentah, tapi bisa diolah, dikemas, dan bernilai tambah bagi nelayan dan keluarganya,” jelasnya.
Terakhir, Saadiah ngingetin soal pentingnya transparansi biar proyek ini nggak “nyelam ke laut” alias hilang tanpa kabar.
“Saya ingin setiap proyek yang lahir dari aspirasi rakyat benar-benar kembali kepada rakyat. Laut adalah sumber kehidupan, dan nelayan adalah penjaga kesejahteraan kita,” tutupnya dengan senyum hangat.
Intinya, Kampung Nelayan Merah Putih ini bukan proyek yang cuma basah di permukaan. Ini tentang bikin nelayan makin sejahtera—tanpa harus “terombang-ambing nasibnya.”
