Manusiasenayan.id – Program pemagangan nasional lagi didorong buat lebih “membumi”. Anggota Komisi IX DPR RI, Cellica Nurrachadiana, ngasih sinyal kuat: anak daerah seharusnya bisa dapet akses magang tanpa harus cabut jauh dari kampung halaman.
Menurut Cellica, kuncinya ada di kolaborasi. Pemerintah daerah—mulai dari kabupaten, kota, sampai dinas tenaga kerja—harus lebih aktif ngajak ngobrol dunia usaha lokal, termasuk Apindo. Kalau komunikasi ini jalan, peluang magang bisa kebuka lebih luas tanpa harus nunggu instruksi pusat terus.
“Kalau daerah gerak bareng, anak-anak kita nggak perlu ribet daftar ke luar kota,” ujarnya saat kunjungan kerja di Bali.
Buat Cellica, pendekatan ini bukan soal ngebatesin mobilitas. Dia justru ngeliat ini sebagai langkah mitigasi risiko. Bayangin aja, kalau peluang magang ada di daerah sendiri, peserta nggak perlu keluar biaya tambahan buat kos, makan, atau adaptasi lingkungan baru.
Lebih jauh, dia menilai skema magang berbasis lokal ini punya efek domino yang positif. Selain nambah pengalaman kerja, peserta juga bisa lebih hemat dan bahkan mulai menabung. Buat peserta perempuan, ini juga jadi langkah penting buat meminimalisir risiko selama proses magang.
“Pengalaman dapet, tabungan jalan, risiko juga lebih terkendali,” kira-kira begitu garis besarnya.
Nggak cuma itu, Cellica juga ngasih target yang cukup tegas. Dia pengen minimal 50 persen peserta magang itu berasal dari daerah setempat. Artinya, program ini nggak cuma jadi ajang mobilitas tenaga kerja, tapi juga alat buat nguatin ekonomi lokal.
Supaya ini nggak cuma jadi wacana, dia mendorong adanya kerja sama yang lebih rapi antara pemerintah pusat dan daerah. Bukan sekadar koordinasi biasa, tapi lewat mekanisme yang jelas, termasuk perjanjian kerja sama di level daerah.
Masuk akal sih. Soalnya tiap daerah punya “jualan” masing-masing—ada yang kuat di pariwisata, ada yang di industri, perdagangan, sampai jasa. Nah, potensi ini harus jadi dasar penempatan peserta magang biar lebih relevan dan tepat sasaran.
Di sisi lain, Cellica juga nyinggung soal pentingnya pemerataan program. Jangan sampai ada daerah yang kebagian banyak, sementara yang lain cuma jadi penonton. Kuncinya ada di komunikasi yang intens antara pusat dan daerah, plus evaluasi berbasis data.
“Tracing-nya harus jelas,” tegasnya.
Dengan data yang rapi, pemerintah bisa lihat jurusan peserta, kebutuhan industri, sampai perusahaan mana yang paling banyak nyerap tenaga magang. Apalagi program ini udah masuk batch keempat, jadi harusnya evaluasi makin tajam dan optimal.
Intinya, Cellica pengen program magang ini nggak cuma jalan, tapi juga tepat sasaran, efisien, dan tetap ramah buat anak-anak daerah.
