Manusiasenayan.id – Kalau lo cari sosok politisi yang jalurnya runtut dari sekolah sampai kursi parlemen, nama drg. Putih Sari layak masuk radar. Lahir dan besar di Jakarta, perjalanan pendidikannya bisa dibilang full “anak ibu kota banget”. Ia mengenyam pendidikan di SDN 13 Pagi Lubang Buaya Jakarta (1990–1996), lanjut ke SMPN 81 Lubang Buaya Jakarta (1996–1999), lalu SMAN 42 Jakarta (1999–2002).

Masuk kuliah, arahnya sudah jelas: dunia kesehatan. Ia menempuh pendidikan di Universitas Trisakti Jakarta, Kedokteran Gigi (2002–2006) dan melanjutkan profesinya di kampus yang sama pada periode 2006–2011. Background sebagai dokter gigi ini bukan sekadar titel, tapi jadi modal kuat saat ia terjun ke politik—khususnya di isu kesehatan publik.

Karier politiknya dimulai ketika ia terpilih sebagai Anggota DPR RI periode 2009–2014. Di periode itu, ia duduk sebagai Anggota Komisi IX DPR RI (2009–2014), komisi yang membidangi kesehatan, ketenagakerjaan, dan pengawasan obat serta makanan. Selain itu, ia juga dipercaya menjadi Anggota BURT (2009–2011) sebelum kemudian naik posisi sebagai Wakil Ketua BURT DPR RI (2014). Artinya, sejak awal ia sudah dipercaya mengemban tanggung jawab strategis di internal parlemen.

Saat ini, ia dikenal sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, posisi yang bikin perannya makin sentral dalam pembahasan kebijakan kesehatan nasional, BPJS, perlindungan tenaga kerja, hingga isu-isu kesejahteraan sosial. Di Komisi IX, ritme kerjanya nggak santai—karena setiap kebijakan yang dibahas langsung nyentuh hajat hidup orang banyak.

Di luar parlemen, Putih Sari juga aktif di organisasi politik dan sayap partai. Ia pernah menjabat sebagai Bendahara Perempuan Indonesia Raya (PIRA) periode 2011–2015, lalu menjadi Sekjen Pemuda Demokrat Indonesia (2011–2015). Di internal partai, ia juga dipercaya sebagai Ketua Bidang Pariwisata DPP Partai Gerindra (2012–2015). Kombinasi pengalaman organisasi dan parlemen ini membentuk karakternya sebagai politisi yang cukup matang secara struktural.

Untuk urusan Alat Kelengkapan Dewan (AKD), fokus utamanya ada di Komisi IX, sesuai dengan latar belakang akademiknya. Nyambung, relevan, dan konsisten.

Meski tidak tercatat memiliki data penghargaan formal, rekam jejak pendidikannya yang linear, pengalaman legislatif sejak 2009, serta posisinya sebagai pimpinan komisi jadi bukti bahwa kariernya dibangun lewat proses panjang, bukan instan.

Dari Lubang Buaya sampai ruang rapat DPR RI, drg. Putih Sari menunjukkan satu hal: ketika kompetensi medis dibawa ke meja legislasi, kebijakan kesehatan bisa dikawal dengan perspektif yang lebih paham lapangan.