Manusiasenayan.id – Di tongkrongan politik Senayan yang kadang penuh gimmick, nama Mercy Chriesty Barends tuh masuk kategori “nggak banyak gaya, tapi ngena.” Sosok dari Indonesia timur ini bukan tipe yang numpang lewat—dia datang dengan track record yang cukup panjang, dari kampus sampai kursi parlemen.
Lahir di Ambon, Mercy tumbuh dengan jalur pendidikan yang cukup lurus tapi solid. Dari SD Negeri 4 Ambon, lanjut ke SMP Negeri 3 Ambon, lalu SMA Negeri 1 Ambon, sampai akhirnya berlabuh di Universitas Pattimura, Fakultas Teknik Mesin Kapal. Jalur teknik ini bukan cuma soal angka dan mesin, tapi juga ngebentuk cara pikirnya yang sistematis—nggak asal ngomong, tapi berbasis logika.
Sebelum masuk dunia politik nasional, Mercy sudah “digembleng” di level lokal. Kariernya dimulai dari dunia pemberdayaan masyarakat sebagai Direktur Eksekutif LPPM Maluku selama lebih dari satu dekade. Di fase ini, dia nggak cuma duduk di balik meja—tapi turun langsung ngurus isu kemiskinan, pembangunan, sampai kesehatan masyarakat. Dari situ, jalannya ke politik makin kebuka.
Masuk DPRD Maluku, Mercy bukan sekadar pelengkap. Dia sempat jadi Wakil Ketua Komisi D, lalu naik jadi anggota, bahkan sampai menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Maluku (2012–2014). Ini bukan posisi kecil—artinya dia sudah dipercaya mengatur arah kebijakan daerah sebelum akhirnya naik level ke nasional.
Tahun 2014 jadi titik loncatnya ke Senayan sebagai anggota DPR RI dari PDI Perjuangan. Dan sampai sekarang, dia masih bertahan—bukan karena hoki, tapi karena konsistensi. Di periode terbaru, Mercy duduk di Komisi III DPR RI yang membidangi hukum, HAM, dan keamanan, salah satu komisi paling krusial dan “panas” di parlemen.
Yang menarik, Mercy juga aktif di berbagai organisasi, terutama yang nyentuh isu perempuan dan masyarakat. Dia terlibat di GASIRA Maluku, Kaukus Perempuan Parlemen, sampai struktur DPP PDIP. Bahkan, dia pernah jadi Ketua Divisi Energi, Mineral, Riset & Lingkungan di tingkat pusat—menunjukkan spektrum isu yang dia kuasai cukup luas.
Di balik semua jabatan itu, ada satu benang merah: keberpihakan. Mercy dikenal vokal kalau sudah bicara soal keadilan, terutama untuk perempuan dan kelompok rentan. Nggak heran kalau dia juga aktif di advokasi isu sosial sejak muda—mulai dari GMKI sampai organisasi gereja.
Kalau banyak politisi sibuk bangun citra, Mercy justru lebih fokus ke kerja nyata. Dari Ambon ke Senayan, dari aktivis ke legislator—perjalanannya bukan instan. Dan mungkin itu yang bikin dia tetap relevan: karena yang dia bawa bukan sekadar nama, tapi pengalaman.
