ManusiaSenayan.id – Medsos lagi rame banget bahas “minuman rasa susu” impor dari China yang katanya sempat masuk ke paket MBG di salah satu SPPG. Netizen langsung auto curiga: ini susu beneran atau cuma minuman yang pengen di-claim susu? Soalnya yang jadi masalah bukan soal rasanya doang, tapi kandungannya.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini ikut angkat suara dan minta BGN (Badan Gizi Nasional) nggak lengah. Beliau tegas bilang, “BGN harus memperketat makanan impor. Ini BGN kecolongan, ada minuman rasa susu tapi kandungannya tidak berisi susu,”. Nah loh, ini kayak beli “kopi susu” tapi susunya cuma lewat.
Yahya juga ngingetin, program MBG harusnya lebih memprioritaskan produk lokal. Selain lebih aman diawasi, dampaknya juga bagus buat ekonomi dalam negeri. Dia bilang, “Minuman yang diimpor bukanlah susu murni sehingga kandungan gizinya tidak ada. Ini tidak sesuai dengan SOP BGN selama ini,”.
Terus beliau nambahin, “Dengan memprioritaskan produk dalam negeri akan menghidupkan usaha lokal. Peternak sapi susu di tanah air akan sangat terbantu dengan kehadiran MBG. Karena produksi mereka terserap di lapangan,”. Jadi bukan cuma penerima manfaat yang happy, peternak juga ikut kebagian kabar baik.
Yang bikin makin disorot, katanya minuman itu juga mengandung gula tinggi. Yahya menilai ini berbahaya kalau dibiarkan. Dia menegaskan, “Ini menunjukkan lemahnya pengawasan dari BGN. Tidak berjalannya SOP terkait standar kandungan gizi.
Apalagi mengandung kadar gula yang tinggi, yang seharusnya dihindari oleh BGN. Bahan makanan dan minuman yang mengandung kadar gula yang tinggi harus diganti dengan produk yang kadar gulanya rendah supaya tidak menimbulkan resiko kesehatan bagi penerima manfaat,”.
Sementara itu dari sisi BGN, Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang bilang BGN punya aturan ketat, bahkan melarang produk impor dipakai di menu MBG. Jadi sekarang PR-nya jelas: kalau aturan udah ada, pengawasan lapangan jangan kalah sama “drama rasa susu”.
Kesimpulannya: MBG itu buat masa depan generasi. Jangan sampai anak-anak dapat “minuman rasa susu”, tapi gizinya cuma “rasa-rasa harapan”. Pengawasan harus makin rapat, biar yang masuk paket itu beneran bergizi, bukan sekadar branding.
