Manusiasenayan.id – Kalau dengar nama Nusakambangan, yang langsung kepikiran pasti “pulau penjara”. Nggak salah. Di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, berdiri 13 unit pelaksana teknis Ditjen Pemasyarakatan—terdiri dari 12 lapas dan 1 bapas. Isinya? Ada 4.037 warga binaan pemasyarakatan (WBP).

Dengan jumlah sebanyak itu, produksi sampahnya nggak main-main. Sehari bisa tembus 1 ton sampah dari seluruh lapas se-Nusakambangan. Dulu, sampah-sampah itu cuma ditaruh di belakang masing-masing UPT. Numpuk, penuh, dan berpotensi ganggu lingkungan.

Tapi sekarang ceritanya beda.

Sejak hadirnya Balai Latihan Kerja (BLK) Pengolahan Sampah, Nusakambangan resmi menerapkan sistem zero waste. Artinya, sampah yang dihasilkan nggak lagi berakhir jadi tumpukan tak berguna.

“Satu hari bisa 1 ton sampah dari lapas se-Nusakambangan yang diolah. Sebelumnya, sampah setiap UPT ditaruh di belakang lapas. Sejak adanya BLK ini, zero waste,” jelas Kepala Lapas Kelas IIA Kembangkuning Nusakambangan, Winarso, saat rombongan Komisi XIII DPR RI mengecek sarana pembinaan napi, Rabu (11/2/2026).

BLK ini bukan kerja sendirian. Pengelolaannya menggandeng PT Solusi Limbah Abadi. Di sini, para napi nggak cuma duduk menjalani masa hukuman, tapi juga ikut pelatihan mengolah sampah jadi sesuatu yang lebih berguna—terutama pupuk.

Sampah yang diolah pun beragam. Mulai dari sisa makanan, sampah dapur, sampah organik, sampai sampah nonmedis dari aktivitas harian warga binaan dan petugas. Semua diproses lewat metode pembakaran dengan fasilitas yang sudah disiapkan.

Hasilnya? Sampah berkurang drastis dan nggak lagi menumpuk di lingkungan lapas.

Menariknya lagi, abu sisa pembakaran nggak dibuang percuma. Abu itu dimanfaatkan sebagai bahan urukan di area tertentu dan dicampur dengan kotoran hewan untuk jadi pupuk. Pupuk tersebut kemudian dipakai untuk mendukung kegiatan pertanian dan program ketahanan pangan di Nusakambangan.

Program pengolahan sampah ini mulai beroperasi sejak Juni 2025. Langkah ini jadi bagian dari upaya pengelolaan lingkungan dan penanganan sampah terpadu di seluruh wilayah lapas Nusakambangan.

Dari pulau yang identik dengan jeruji besi, kini lahir cerita soal pembinaan, pelatihan kerja, dan kepedulian lingkungan. Nusakambangan bukan cuma soal hukuman, tapi juga soal perubahan dan keberlanjutan.