Manusiasenayan.id – Komitmen Polda Riau buat nggak cuma jaga keamanan tapi juga bantu pembangunan nyata akhirnya kelihatan hasilnya. Lewat program Jembatan Merah Putih Presisi, sebanyak 22 jembatan yang tersebar di berbagai kabupaten/kota di Provinsi Riau kini sudah 100 persen rampung.

Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menegaskan, operasi ini bukan sekadar proyek bangun-bangun fisik. Lebih dari itu, ini adalah langkah konkret Polri buat dorong social inclusion, alias membuka akses seluas-luasnya buat masyarakat pedesaan.

“Pembangunan ini kami harapkan jadi urat nadi baru ekonomi warga dan jadi jembatan masa depan anak-anak sekolah. Kami akan terus kawal sampai seluruh target tercapai 100 persen,” tegas Herry, Jumat (27/2/2026).

Sejak awal, Satgas Darurat Jembatan Polda Riau langsung gaspol. Sebanyak 250 personel gabungan dari Satbrimob, Ditpolairud, Ditsamapta, hingga jajaran Polres turun tangan. Mereka kerja rata-rata 8–12 jam per hari, ngebut biar warga bisa segera menikmati hasilnya.

Dansat Brimob Polda Riau Kombes I Ketut Gede Adi Wibawa selaku kasatgas menyebut mayoritas infrastruktur kini sudah bisa dipakai masyarakat. Proyek ini nggak cuma bangun jembatan baru, tapi juga renovasi sekolah dan bikin sumur bor.

“Fokus utama kami jelas: jamin keselamatan warga dan pastikan anak-anak punya akses pendidikan yang layak. Saat ini 22 jembatan sudah selesai sepenuhnya, sementara 5 lainnya masih tahap finishing,” ujar Ketut.

Beberapa titik yang sudah rampung antara lain di Kampar, Rohul, Rohil, Siak, Kepulauan Meranti, Inhu, Inhil, Dumai, Bengkalis, Kuansing, hingga Pekanbaru. Nama-nama desa yang dulu sulit dijangkau, sekarang pelan-pelan berubah jadi wilayah dengan akses yang lebih manusiawi.

Sementara itu, lima jembatan lain terus dikebut. Jembatan Lubuk Agung di Kampar dan Beton I & II Pangkalan Kuras di Pelalawan sudah 98 persen. Jembatan gantung Muara Petai di Kuansing tembus 88 persen. Sedangkan Jembatan Temiang di Bengkalis masih di angka 51 persen dan masuk tahap krusial pengecoran pondasi.

Program ini jadi bukti kalau kehadiran negara lewat Polri nggak cuma soal patroli dan penegakan hukum. Tapi juga soal memastikan anak sekolah nggak lagi taruhan nyawa demi menyeberang sungai, dan roda ekonomi desa bisa berputar lebih lancar.

Di Bumi Lancang Kuning, jembatan ini bukan cuma penghubung darat—tapi simbol kehadiran negara yang nyata sampai ke pelosok.