Manusiasenayan.id – Di antara wajah-wajah parlemen yang makin rame sama generasi muda, nama Ahmad Wazir Noviadi—atau yang akrab dipanggil Ovi—jadi salah satu yang cukup nyita perhatian. Lahir di Palembang, 22 November 1988, Ovi bukan tipe politisi yang “ujug-ujug” muncul. Ia datang dengan proses, pengalaman, dan gaya yang cukup relate buat generasi sekarang.

Kalau ditarik ke belakang, perjalanan pendidikannya cukup solid dan konsisten. Ovi mengawali dari SDN 188 Palembang, lanjut ke SMPN 1 Palembang, lalu SMA Bina Bangsa. Setelah itu, ia melanjutkan studi di Universitas Islam Indonesia, jurusan Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (2007–2014)—sebuah fondasi yang bikin dia punya sudut pandang lebih peka terhadap dinamika manusia dan sosial. Nggak berhenti di situ, ia juga memperdalam ilmunya di Universitas Sriwijaya, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (2017–2020). Kombinasi dua kampus ini bisa dibilang jadi “modal baca situasi” yang kuat, baik di level masyarakat maupun kebijakan.

Masuk ke dunia politik nasional, Ovi kini duduk sebagai anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra periode 2024–2029. Di Senayan, dia nggak cuma jadi “penghuni kursi”, tapi juga aktif di beberapa alat kelengkapan dewan. Ia tergabung dalam Komisi II DPR RI, yang ngebahas isu strategis kayak pemerintahan dalam negeri, pertanahan, dan pemilu. Selain itu, ia juga ikut di Badan Anggaran (Banggar)—posisi yang cukup krusial karena berkaitan langsung dengan arah keuangan negara. Nggak cuma itu, Ovi juga terlibat dalam berbagai Panitia Khusus (Pansus) yang biasanya dibentuk untuk ngebahas isu-isu spesifik yang lagi panas.

Menariknya, meski punya posisi yang “berat”, gaya Ovi tetap santai dan nggak terlalu kaku. Dia sering hadir di tengah masyarakat dengan pendekatan yang lebih cair—nggak melulu bicara soal regulasi, tapi juga nyambung ke realita sehari-hari warga. Ini yang bikin dia terasa lebih dekat, bukan tipe politisi yang cuma muncul pas kampanye.

Kalau dilihat dari profil resminya, memang belum banyak data soal pekerjaan di luar politik, penghargaan, atau organisasi yang dipublikasikan. Tapi justru di situlah menariknya—fokus Ovi saat ini terlihat benar-benar diarahkan ke kerja politik dan penguatan perannya di parlemen.

Di tengah stigma politik yang sering dianggap “dunia orang lama”, sosok Ahmad Wazir Noviadi jadi semacam sinyal bahwa regenerasi itu nyata. Dengan latar pendidikan yang kuat dan posisi strategis di DPR, dia lagi nunjukin kalau anak muda juga bisa main di level tinggi—asal ngerti medan dan tahu cara tetap connect sama rakyat.

Singkatnya, Ovi bukan cuma soal jabatan. Tapi tentang bagaimana gaya baru dalam politik mulai kebentuk: lebih cair, lebih dekat, dan—yang paling penting—lebih relevan.