ManusiaSenayan.id — Industri pertahanan dan manufaktur lagi makin kinclong, tapi ada satu sektor yang dicolek langsung sama Anggota Komisi VII DPR RI Putra Nababan: produksi alat berat. Bukan buat gaya-gayaan, tapi buat penanganan bencana yang makin sering bikin Indonesia stress test tiap tahun.
Saat kunjungan ke PT Pindad di Bandung, Putra bilang prospeknya cerah, tapi ada catatan penting. Ia menegaskan kalau alat berat seperti ekskavator dan bulldozer itu krusial banget buat daerah terdampak bencana. Kutipannya jelas dan utuh:
“Kebutuhannya sangat tinggi sekali. Kita melihat bencana di Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, dan berbagai kabupaten. Warga berhari-hari kesulitan mengevakuasi keluarganya karena akses tertutup dan kurangnya alat berat,” ujar Putra.
Dalam bahasa sederhananya: situasi lapangan seringnya bukan kurang niat, tapi kurang ekskavator. Dan kalau akses jalan tertutup, ya bantuan juga ikut pending.
Putra bilang kondisi ini nunjukin satu hal: alat berat harus tersedia cepat, banyak, dan merata. Karena tanpa itu, penanganan darurat bisa kayak nunggu update aplikasi: lama dan bikin deg-degan.
Melihat Pindad mulai produksi alat berat, Putra ngajak perusahaan itu buat naik level: memetakan kebutuhan nasional, termasuk kawasan Indonesia Timur yang rawan bencana tapi sering kurang peralatan.
Ia juga mengingatkan:
“Indonesia bukan hanya kaya dan indah, tapi juga penuh ancaman cuaca dan gempa. Karena itu Pindad bersama pemerintah harus betul-betul memetakan produksi alat berat. Ini sangat dibutuhkan dalam waktu dekat.”
Di akhir, Putra menegaskan bahwa produksi alat berat bukan cuma soal industri, tapi soal nyawa masyarakat di daerah rawan bencana. Harapannya, Pindad bisa jadi garda terdepan buat mempercepat mitigasi dan respons bencana—biar ke lapangan nggak perlu nunggu alat kiriman dari provinsi tetangga dulu.
