Manusiasenayan.id – Konflik Iran melawan AS dan Israel makin panas. Dampaknya? Iran menutup Selat Hormuz, salah satu jalur laut paling strategis di dunia. Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia, langsung angkat suara dan minta pemerintah jangan santai hadapi situasi ini.
Menurutnya, penutupan Selat Hormuz bukan sekadar isu geopolitik jauh di Timur Tengah. Jalur ini adalah “gerbang utama” keluar-masuk minyak dan komoditas dari kawasan Teluk. Kalau jalur ini terganggu, efeknya bisa merambat ke mana-mana, termasuk ke Indonesia.
“Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan global. Gangguan di sini tidak hanya mempengaruhi perdagangan internasional,” tegas Chusnunia dalam keterangan resminya, Senin (2/3/2026).
Bukan cuma soal kapal yang dibatasi, tapi juga soal biaya. Ia menilai pembatasan kapal komersial berpotensi mengganggu rantai pasok global dan memicu kenaikan ongkos logistik dalam waktu dekat. Buat Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah, ini jelas alarm serius.
Kalau harga minyak dunia naik, imbasnya langsung terasa. Setiap kenaikan 1 dolar AS per barel di atas asumsi pemerintah bisa menambah beban negara sekitar Rp 10,3 triliun. Angka yang nggak kecil.
“Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya transportasi, manufaktur, dan pertanian,” ujarnya. Artinya, harga barang dan jasa ikut terdorong naik. Ujung-ujungnya? Masyarakat yang kena.
Ia juga mengingatkan sektor pariwisata bisa ikut terpukul. Harga tiket pesawat dan biaya akomodasi berpotensi melonjak. Kalau ongkos naik, minat wisatawan bisa turun. Padahal sektor ini jadi salah satu penopang ekonomi nasional.
Menurut Komisi VII DPR RI, eskalasi konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz merupakan ancaman serius bagi dunia usaha. Gangguan pasokan energi dan logistik bisa menghambat pertumbuhan ekonomi nasional kalau tidak diantisipasi dengan matang.
Meski begitu, Chusnunia melihat situasi ini bukan cuma ancaman, tapi juga momentum. Ia mendorong pemerintah memanfaatkan kondisi ini untuk mempercepat transformasi menuju ekonomi yang lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan.
Pemerintah dan pelaku usaha diminta segera menyiapkan langkah mitigasi risiko. Mulai dari diversifikasi sumber energi, meningkatkan efisiensi energi, sampai mengembangkan industri substitusi impor. Kebijakan yang tepat dan insentif yang kuat jadi kunci.
Pesannya jelas: jangan tunggu krisis terasa dulu baru bergerak. Antisipasi sekarang, supaya ekonomi Indonesia tetap stabil di tengah gejolak global.
