ManusiaSenayan.id – Kalau reformasi itu ibarat update aplikasi, Komisi III DPR kayak lagi bilang: “Guys, Polri ini bukan butuh ganti HP, tapi bersihin cache dan benerin setting perilaku.”
Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Moh. Rano Alfath, menilai reformasi Polri sebaiknya fokus ke perubahan kultural, bukan bongkar-bongkar struktur. Soalnya, menurut beliau desain kelembagaan Polri sudah paling pas.
Bahkan Rano bilang langsung, “Kalau saya lebih condong kepada perbaikan kultural, Pak. Karena secara struktural dan instrumental itu sudah final. Itu desain yang paling benar dan harus kita hargai,” kata Rano.
Nah, kita semua tahu keluhan masyarakat soal pelayanan kepolisian masih sering lewat di timeline: laporan terasa lambat, respons kadang bikin warga nunggu kayak antre flash sale, sampai ada oknum yang sikapnya dianggap arogan atau kurang profesional. Rano menilai sumbernya lebih ke budaya kerja dan perilaku, bukan sekadar bentuk organisasinya.
Makanya ia menegaskan, “Ini kan mekanisme kultur, sikap dan perilaku. Nah, ini yang memang harus kita sempurnakan dan dibenahi,” ujarnya.
Rano juga menyebut Polri sebenarnya sudah mulai berbenah, dan pimpinan Polri disebut paham arah yang diinginkan masyarakat—terutama soal sikap dan pola layanan publik. Intinya: bukan cuma kerja, tapi kerja yang bikin publik merasa dihargai.
Di sisi lain, Rano juga nyeletuk soal lembaga lain: Mahkamah Konstitusi. Menurutnya, “Reformasi MK boleh juga nanti, karena memang banyak putusan MK ini agak kabur-kabur, sifatnya tidak jelas,” katanya. kalau putusan “kabur-kabur”, publik ikut bingung, bro.
Terakhir, ia mengingatkan biar reformasi jangan pakai emosi. “Kita tidak ingin semua dilakukan berdasarkan emosi atau ketidaksukaan seseorang. Yang dibahas harus pasalnya, substansinya, bukan perasaannya,” tegasnya.
Kesimpulannya: pengawasan internal (Propam, Wasidik) dan eksternal (DPR) tetap penting, pembaruan hukum pidana juga jadi dorongan. Target finalnya sederhana tapi krusial: budaya kerja aparat makin profesional dan berkeadilan—biar warga yang butuh bantuan nggak merasa “dites kesabarannya” duluan.
