Manusiasenayan.id – Papua Barat punya empat senator yang duduk di DPD RI periode 2024–2029. Mereka datang dengan latar yang beda-beda, mulai dari aktivis literasi, akademisi hukum, isu konektivitas, sampai persoalan pekerja. Berdasarkan keputusan resmi KPU, keempatnya adalah Lamek Dowansiba, Filep Wamafma, Abdullah Manaray, dan Yance Samonsabra. Perolehan suara mereka masing-masing 57.973, 57.482, 39.583, dan 31.178 suara.

Lamek Dowansiba: Dari Buku dan Aktivisme, Lanjut ke Senayan

Nama Lamek Dowansiba punya cerita yang cukup dekat dengan dunia pendidikan. Sebelum duduk di DPD, Lamek dikenal aktif dalam gerakan literasi di Papua Barat. Ia ikut membangun rumah baca dan pernah memimpin organisasi kemahasiswaan. Ia juga tercatat aktif di KNPI Papua Barat.

Pada Pemilu 2024, Lamek meraih 57.973 suara, sekaligus menjadi peraih suara tertinggi dari empat calon terpilih DPD Papua Barat.

Jadi, jalurnya cukup menarik. Dari aktivitas literasi dan isu pendidikan, sekarang masuk ke ruang politik nasional. Pendidikan Papua Barat menjadi salah satu isu yang pernah ia soroti.

Filep Wamafma: Anak Kampus yang Balik Lagi ke Senayan

Kalau Filep, ceritanya lebih kental dengan dunia hukum dan akademik. Ia pertama kali menjadi anggota DPD RI pada periode 2019–2024, kemudian kembali terpilih untuk periode 2024–2029 dengan 57.482 suara.

Filep juga menyandang gelar doktor bidang hukum dari Universitas Hasanuddin. Ia mempertahankan disertasinya pada 2019 dengan topik kebijakan investasi dan perlindungan hak masyarakat adat Papua Barat.

Kini, Filep kembali dipercaya sebagai Ketua Komite III DPD RI periode 2026–2027. Komite ini membahas isu seperti pendidikan, kesehatan, tenaga kerja, pemuda, olahraga, kebudayaan, dan kesejahteraan sosial.

Abdullah Manaray: Kalau Soal Papua, Akses Juga Penting

Abdullah Manaray kembali menjadi senator Papua Barat setelah memperoleh 39.583 suara pada Pemilu 2024.

Salah satu isu yang pernah ia bawa adalah konektivitas wilayah. Pada 2024, Abdullah mendorong penambahan penerbangan perintis ke pelosok Papua. Alasannya sederhana: ada wilayah yang memang masih sulit dijangkau lewat jalan darat.

Ia juga menyoroti jadwal penerbangan dan koneksi antara pesawat perintis dengan penerbangan utama. Jadi, buat Papua, transportasi bukan sekadar soal berangkat dan pulang. Akses juga berkaitan dengan biaya, waktu, dan keterhubungan antardaerah.

Yance Samonsabra: Isu Pekerja Masuk ke Ruang Sidang

Yance Samonsabra memperoleh 31.178 suara dan menjadi salah satu dari empat senator Papua Barat periode 2024–2029.

Salah satu isu yang pernah ia soroti adalah hak pekerja perempuan. Saat pembahasan RUU Kesejahteraan Ibu dan Anak, Yance mempertanyakan perlindungan cuti melahirkan dan hak gaji selama cuti, termasuk bagi pekerja sektor swasta.

Intinya, isu kebijakan yang dibahas di ruang parlemen ternyata bisa nyambung langsung dengan kehidupan sehari-hari. Dari pendidikan, akses transportasi, sampai hak pekerja, empat senator ini membawa isu yang berbeda dari Papua Barat ke Senayan.