Manusiasenayan.id – Kabar duka kembali datang dari medan konflik di Lebanon. Indonesia kehilangan salah satu prajurit terbaiknya, Praka Rico Pramudia, yang gugur saat menjalankan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa lewat pasukan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Kepergian Rico bikin daftar prajurit TNI yang gugur di misi perdamaian PBB bertambah panjang.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, menyampaikan duka mendalam atas gugurnya prajurit tersebut. Menurutnya, pengorbanan para tentara Indonesia di wilayah konflik bukan sekadar tugas biasa, tapi bentuk nyata komitmen Indonesia menjaga perdamaian dunia.
“Pengorbanan ini adalah bentuk nyata komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia,” kata Sukamta dalam keterangannya.
Praka Rico sebelumnya sempat menjalani perawatan intensif setelah mengalami luka berat akibat ledakan peluru kendali yang menghantam markas UNIFIL di wilayah Lebanon Selatan pada akhir Maret lalu. Situasi di kawasan itu memang lagi panas-panasnya setelah ketegangan antara militer Israel dan kelompok Hizbullah makin memanas.
Dalam insiden itu, Praka Farizal Rhomadhon juga gugur. Sementara dua anggota TNI lainnya mengalami luka-luka. Belum selesai sampai di situ, sehari setelahnya ledakan lain menghantam konvoi logistik UNIFIL dan menewaskan Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar serta Sertu Muhammad Nur Ikhwan.
Dengan gugurnya Praka Rico, total sudah empat prajurit TNI kehilangan nyawa dalam misi perdamaian di Lebanon. Situasi ini bikin banyak pihak mulai mempertanyakan seberapa aman pasukan penjaga perdamaian PBB di tengah konflik yang makin brutal.
Sukamta menilai kejadian ini harus jadi alarm serius buat dunia internasional. Menurutnya, pasukan perdamaian yang datang membawa misi kemanusiaan seharusnya mendapat perlindungan maksimal, bukan malah ikut jadi korban di tengah konflik bersenjata.
Ia juga mendesak PBB untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan pasukan UNIFIL. Sebab, ancaman di lapangan sekarang jauh lebih berbahaya dan kompleks dibanding sebelumnya.
Selain itu, Sukamta meminta ada investigasi yang transparan dan akuntabel supaya publik internasional tahu siapa yang harus bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Di sisi lain, ia juga mendorong pemerintah Indonesia buat mengevaluasi pola penugasan dan sistem keamanan prajurit TNI yang dikirim ke wilayah konflik. Menurutnya, komitmen menjaga perdamaian dunia tetap penting, tapi keselamatan prajurit juga nggak boleh dianggap sepele.
Bagi Sukamta, gugurnya para prajurit ini jadi pengingat pahit bahwa perdamaian dunia nggak bisa dibayar dengan pengorbanan yang sia-sia. Dibutuhkan sistem perlindungan yang kuat dan komitmen serius dari komunitas internasional supaya tragedi serupa nggak terus terulang.
