Manusiasenayan.id – Transformasi di Bandara Internasional Juanda lagi jadi sorotan. Anggota Komisi V DPR RI, Irine Yusiana Roba Putri, angkat suara soal perubahan branding sejak bandara ini masuk ke dalam naungan InJourney Airports. Buat Irine, modernisasi boleh jalan, tapi identitas sejarah jangan sampai ikut “check out”.

Menurutnya, bandara itu bukan cuma tempat pesawat naik-turun. Bandara adalah wajah bangsa. Ketika logo korporasi terlihat lebih dominan dibanding nama besar Ir. H. Djuanda, di situlah alarm mulai bunyi. Irine mengingatkan, pemberian nama pahlawan nasional di bandara bukan sekadar formalitas, tapi punya nilai historis dan filosofis yang dalam.

“Jangan sampai kepentingan korporasi menenggelamkan jati diri tersebut,” tegasnya di Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (23/2/2026).

Buat Irine, transformasi manajemen memang penting. Tata kelola harus makin profesional, sistem makin modern, dan pelayanan makin cepat. Tapi semua itu wajib tetap selaras dengan penghormatan terhadap sejarah bangsa. Nama Djuanda bukan tempelan. Ia adalah simbol kedaulatan maritim dan udara Indonesia.

Irine pun mendesak agar penempatan logo dan atribut visual perusahaan tidak mengurangi muruah nama besar sang pahlawan. Branding korporasi sah-sah saja, tapi jangan sampai menggeser identitas utama bandara yang sudah melekat kuat di hati masyarakat, khususnya warga Jawa Timur.

Nggak cuma soal tampilan, Irine juga menyoroti hal yang lebih substansial: kualitas layanan. Ia menekankan bahwa indikator keberhasilan transformasi bukan terletak pada dominasi logo di terminal, melainkan pada performa operasional yang dirasakan langsung oleh penumpang.

Salah satu yang disorot adalah performa penanganan bagasi atau First Bag – Last Bag. Standar internasional menargetkan waktu di kisaran 20 hingga 40 menit. Artinya, setelah pesawat mendarat, penumpang nggak perlu nunggu lama buat ambil koper.

“Performa bagasi harus benar-benar diwujudkan. Wajah bangsa ini bukan cuma soal visual yang gagah, tapi juga pelayanan yang prima,” lanjutnya.

Berdasarkan paparan manajemen, Bandara Juanda kini dikelola dalam enam regional untuk mendorong optimalisasi operasional. Skema ini diharapkan bikin sistem kerja lebih efisien dan responsif.

Komisi V DPR RI berharap transformasi ini benar-benar meningkatkan customer experience tanpa mengorbankan nilai historis yang jadi kebanggaan publik. Modern boleh, profesional wajib, tapi identitas tetap harga mati.

Karena pada akhirnya, bandara bukan sekadar gerbang perjalanan. Ia adalah simbol. Dan simbol bangsa nggak boleh kehilangan ruhnya.